Tumpeng Sewu Kemiren: Tradisi, Sejarah, dan Makna di Baliknya

Bayangkan sebuah jalan desa yang pada malam hari dipenuhi ratusan keluarga. Di depan setiap rumah tersaji nasi berbentuk kerucut, pecel pitik, dan berbagai pelengkap makanan.

Warga duduk berdampingan, doa dipanjatkan, lalu semuanya makan bersama dalam suasana yang hangat.

Pemandangan seperti inilah yang bisa ditemukan dalam Tumpeng Sewu Kemiren, salah satu tradisi paling terkenal dari masyarakat Osing di Desa Kemiren, Banyuwangi.

Tradisi turun-temurun ini biasanya digelar sekitar sepekan sebelum Hari Raya Idul Adha dan menjadi momentum selamatan desa sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.

Meski namanya berarti “seribu tumpeng”, daya tarik tradisi ini sebenarnya bukan terletak pada jumlah makanannya.

Hal yang jauh lebih penting adalah filosofi di baliknya: kebersamaan, rasa syukur, doa keselamatan, penghormatan terhadap warisan leluhur, dan semangat berbagi.

Karena itu, memahami Tumpeng Sewu berarti melihat lebih dekat bagaimana masyarakat Osing menjaga hubungan sosial sekaligus identitas budayanya.

Apa Itu Tradisi Tumpeng Sewu Kemiren?

Tumpeng Sewu merupakan tradisi selamatan massal masyarakat Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Dalam pelaksanaannya, keluarga-keluarga menyiapkan tumpeng dan menyajikannya di sepanjang jalan desa.

Ribuan warga kemudian berkumpul dan makan bersama setelah rangkaian doa selesai dilakukan. Tumpeng biasanya dilengkapi dengan pecel pitik, yaitu ayam kampung panggang yang dicampur dengan parutan kelapa berbumbu khas masyarakat Osing.

Nama “Sewu” berarti seribu dalam bahasa Jawa. Namun istilah tersebut tidak harus dibaca sebagai hitungan yang selalu tepat seribu buah.

Pada 2025, misalnya, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mencatat bahwa satu keluarga bisa membuat tiga, empat, bahkan lima tumpeng karena mereka juga mengundang kerabat dari luar Kemiren untuk makan bersama.

Jadi, kata “sewu” lebih menggambarkan jumlah tumpeng yang sangat banyak sekaligus skala kebersamaan yang memenuhi desa.

Asal-Usul Tumpeng Sewu sebagai Selamatan Desa

Sulit menentukan satu tanggal pasti kapan tradisi Tumpeng Sewu pertama kali dimulai. Masyarakat Kemiren mengenalnya sebagai warisan leluhur yang telah berlangsung turun-temurun.

Penelitian Universitas Negeri Surabaya menjelaskan Tumpeng Sewu sebagai bentuk folklor setengah lisan yang hidup dalam masyarakat Kemiren. Tradisi tersebut memiliki fungsi utama sebagai ungkapan puji syukur atas berkah yang diterima warga.

Dalam perkembangannya, selamatan ini dilaksanakan menjelang Idul Adha. Dokumentasi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pada berbagai tahun menyebut waktunya sekitar seminggu sebelum Hari Raya Idul Adha atau pada awal bulan Dzulhijah.

Menariknya, tradisi ini tidak berlangsung di satu gedung atau lapangan besar.

Ruang utama justru berada di depan rumah dan sepanjang jalan desa. Hal tersebut membuat hampir seluruh kampung berubah menjadi ruang makan bersama.

Inilah salah satu karakter unik Tumpeng Sewu: tradisi tidak dipisahkan dari kehidupan sehari-hari warga, tetapi hadir langsung di tengah lingkungan tempat mereka tinggal.

Makna Rasa Syukur dalam Tumpeng Sewu

Makna paling kuat dari Tumpeng Sewu adalah rasa syukur kepada Tuhan.

Bagi masyarakat Kemiren, selamatan menjadi kesempatan untuk berterima kasih atas rezeki, kesehatan, hasil kehidupan, dan berbagai keberkahan yang diterima selama setahun.

Ketua Lembaga Adat Osing Kemiren juga menjelaskan bahwa tradisi tersebut merupakan bentuk rasa syukur masyarakat kepada Sang Pencipta.

Filosofi syukur ini terlihat dalam makanan yang disediakan.

Setiap keluarga menyiapkan hidangan menggunakan sumber daya mereka sendiri. Kemudian makanan tersebut tidak dinikmati secara tertutup oleh keluarga saja, melainkan dibawa ke ruang bersama dan disantap bersama tetangga maupun tamu.

Dengan cara seperti ini, rasa syukur tidak berhenti dalam bentuk doa.

Syukur diwujudkan melalui tindakan nyata: menyediakan makanan, membuka ruang untuk orang lain, dan berbagi apa yang dimiliki.

Tumpeng Sewu dan Filosofi Tolak Bala

Selain ungkapan syukur, Tumpeng Sewu Kemiren juga memiliki hubungan dengan konsep selamatan dan tolak bala.

Sebelum makan dimulai, doa dipanjatkan agar masyarakat dan desa dijauhkan dari musibah, penyakit, maupun berbagai kesulitan.

Dokumentasi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyebut tradisi ini juga diyakini masyarakat sebagai selamatan untuk memohon keselamatan kampung.

Namun konsep tolak bala sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang bersifat mistis.

Secara sosial, selamatan tersebut juga memberikan rasa aman karena masyarakat berkumpul, memperkuat hubungan, dan saling mengingatkan bahwa mereka merupakan bagian dari satu komunitas.

Ketika sebuah kampung menghadapi masalah, kekuatan masyarakat tidak hanya bergantung pada individu. Hubungan yang baik antarwarga sering kali menentukan seberapa kuat sebuah komunitas mampu menghadapi perubahan dan kesulitan.

Karena itulah, makna keselamatan dalam Tumpeng Sewu bisa dipahami dalam dua lapisan: doa kepada Tuhan sekaligus usaha menjaga keharmonisan sosial.

Mengapa Pecel Pitik Selalu Hadir?

Membahas Tumpeng Sewu rasanya belum lengkap tanpa pecel pitik khas Osing.

Hidangan ini menggunakan ayam kampung yang dipanggang, kemudian dipadukan dengan parutan kelapa dan berbagai bumbu tradisional. Pecel pitik menjadi lauk utama yang hampir tidak terpisahkan dari rangkaian selamatan masyarakat Kemiren.

Pecel pitik bukan sekadar menu yang dipilih karena rasanya enak.

Kehadirannya menunjukkan bagaimana kuliner dapat menjadi bagian dari identitas budaya. Resep, cara memasak, bahan, hingga waktu penyajiannya diwariskan bersama tradisi.

Dalam sebuah ritual, makanan juga mempunyai kemampuan unik untuk menyatukan orang.

Setelah doa selesai, seluruh warga makan menu yang relatif sama. Perbedaan status sosial menjadi tidak terlalu terasa karena semua orang duduk dalam suasana kebersamaan.

Dari sudut pandang wisata budaya, pecel pitik akhirnya juga menjadi pintu masuk yang menarik bagi wisatawan untuk mengenal masyarakat Osing melalui rasa.

Tradisi yang Menguatkan Gotong Royong dan Kerukunan

Salah satu kekuatan utama Tumpeng Sewu adalah kemampuannya menciptakan ruang pertemuan sosial.

Persiapan tradisi membutuhkan kerja bersama. Ada keluarga yang memasak, warga yang menyiapkan tempat, pihak adat yang mengatur prosesi, hingga masyarakat yang membantu menyambut tamu.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pada pelaksanaan Tumpeng Sewu 2026 menyebut tradisi ini sebagai simbol kekuatan gotong royong dan budaya masyarakat Banyuwangi.

Nilai tersebut sebenarnya bisa dilihat tanpa penjelasan rumit.

Saat warga duduk berjejer di sepanjang jalan dan makan bersama, batas antara rumah pribadi dan ruang publik menjadi jauh lebih cair.

Orang yang datang dari luar desa juga dapat diajak menikmati hidangan. Dokumentasi pelaksanaan Tumpeng Sewu bahkan menunjukkan bagaimana warga Kemiren secara terbuka mengajak pengunjung ikut makan bersama.

Keramahan inilah yang membuat Tumpeng Sewu tidak hanya penting sebagai ritual, tetapi juga sebagai cara masyarakat memperkuat hubungan sosial.

Tumpeng sebagai Simbol Kehidupan dan Kebersamaan

Bentuk tumpeng yang mengerucut ke atas sering digunakan dalam berbagai tradisi masyarakat Jawa dan Nusantara. Dalam konteks Tumpeng Sewu, makna yang paling terlihat justru muncul dari cara makanan tersebut ditempatkan dalam kehidupan bersama.

Satu keluarga membawa satu atau beberapa tumpeng.

Ketika ratusan keluarga melakukan hal yang sama, terciptalah ribuan hidangan yang memenuhi desa. Dari sini terlihat filosofi sederhana bahwa kontribusi kecil dari setiap keluarga bisa berubah menjadi sesuatu yang besar ketika dilakukan bersama.

Tradisi ini juga mengajarkan bahwa pesta budaya tidak harus selalu berpusat pada panggung besar.

Meja makan sederhana, halaman rumah, jalan kampung, dan makanan buatan keluarga pun bisa berubah menjadi ruang budaya ketika seluruh masyarakat memiliki rasa kepemilikan yang sama.

Mungkin inilah salah satu alasan Tumpeng Sewu bertahan: masyarakat bukan hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku utama.

Dari Ritual Adat Menjadi Daya Tarik Wisata Budaya

Seiring meningkatnya popularitas Desa Kemiren, Tumpeng Sewu kini juga menjadi salah satu agenda yang menarik wisatawan.

Profil Desa Wisata Adat Osing Kemiren mencantumkan Tumpeng Sewu bersama Barong Ider Bumi, Ngopi Sepuluh Ewu, dan kegiatan budaya lainnya sebagai bagian dari daya tarik tahunan desa.

Perkembangan tersebut memberi manfaat karena semakin banyak orang mengetahui kebudayaan Osing.

Penelitian tentang pelestarian Tumpeng Sewu juga menemukan bahwa pengembangan tradisi dalam konteks pariwisata berpotensi memberikan dampak sosial-ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan budaya daerah.

Namun, proses komodifikasi budaya tetap perlu dikelola agar nilai asli tradisi tidak hilang. Inilah tantangan terbesar wisata budaya.

Pengunjung tentu boleh mengambil foto dan menikmati suasana, tetapi penting untuk tetap menyadari bahwa Tumpeng Sewu bukan festival kuliner biasa. Bagi warga Kemiren, ia tetap merupakan selamatan kampung yang memiliki nilai spiritual dan sosial.

Cara Menikmati Tumpeng Sewu dengan Menghormati Tradisi

Bagi wisatawan, menghadiri Tumpeng Sewu dapat menjadi salah satu pengalaman budaya paling menarik di Banyuwangi.

Namun ada beberapa sikap sederhana yang penting. Datanglah dengan pakaian sopan, ikuti arahan warga dan panitia, serta jangan menghalangi jalannya prosesi demi mendapatkan foto.

Saat doa berlangsung, sebaiknya ikut menjaga suasana tetap tenang.

Jika warga mengajak makan bersama, anggap undangan tersebut bukan hanya kesempatan mencicipi kuliner, tetapi juga bentuk keramahan masyarakat Kemiren.

Jangan ragu berbincang dengan warga mengenai cara memasak pecel pitik, persiapan tumpeng, atau pengalaman mereka mengikuti tradisi sejak kecil.

Dari percakapan seperti itulah wisata budaya terasa jauh lebih bermakna daripada sekadar melihat acara dari balik kamera.

Mengapa Tumpeng Sewu Masih Relevan?

Di tengah kehidupan modern yang semakin individual, tradisi makan bersama dalam skala satu desa terasa cukup istimewa.

Tumpeng Sewu menunjukkan bahwa warisan budaya dapat berfungsi sebagai “perekat” hubungan sosial. Penelitian mengenai tradisi ini menemukan bahwa nilai kebersamaan, silaturahmi, dan identitas budaya menjadi bagian penting dari keberlanjutannya.

Generasi muda juga mendapatkan kesempatan melihat budaya bukan sebagai sesuatu yang hanya tersimpan di museum.

Mereka terlibat langsung dalam memasak, menyambut tamu, membantu pelaksanaan acara, dan mengikuti tradisi bersama keluarganya.

Selama proses tersebut terus berlangsung, Tumpeng Sewu tidak sekadar bertahan karena rutin dimasukkan ke kalender wisata.

Ia bertahan karena masyarakat masih merasa tradisi tersebut merupakan bagian dari kehidupan mereka.

Tumpeng Sewu Kemiren bukan hanya acara makan ribuan tumpeng di sepanjang jalan desa. Tradisi masyarakat Osing ini menyimpan nilai rasa syukur, permohonan keselamatan, gotong royong, keramahan, serta hubungan kuat antarwarga.

Kehadiran pecel pitik, doa bersama, ribuan tumpeng, dan keterlibatan hampir seluruh keluarga membuat tradisi ini menjadi salah satu gambaran paling jelas tentang kehidupan budaya Desa Kemiren.

Di tengah berkembangnya pariwisata, nilai sosial dan spiritual tersebut tetap menjadi inti yang perlu dijaga. Jika berkunjung ke Banyuwangi menjelang Idul Adha, Tumpeng Sewu layak masuk dalam daftar pengalaman budaya Anda.

Datanglah bukan sekadar untuk melihat ribuan hidangan, tetapi untuk merasakan bagaimana satu kampung menjaga tradisinya melalui doa, makanan, dan kebersamaan.

FAQ

1. Apa itu Tumpeng Sewu Kemiren?

Tumpeng Sewu adalah tradisi selamatan massal masyarakat Osing di Desa Kemiren, Banyuwangi, dengan menyajikan banyak tumpeng dan makan bersama di sepanjang jalan desa.

2. Kapan Tumpeng Sewu dilaksanakan?

Tradisi ini biasanya digelar sekitar sepekan sebelum Hari Raya Idul Adha, atau pada awal bulan Dzulhijah.

3. Apa tujuan Tradisi Tumpeng Sewu?

Tujuan utamanya adalah mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan sekaligus memohon keselamatan dan perlindungan bagi masyarakat Desa Kemiren.

4. Apa makanan khas dalam Tumpeng Sewu?

Selain nasi tumpeng, hidangan khas yang paling identik dengan tradisi ini adalah pecel pitik, yaitu ayam kampung panggang dengan parutan kelapa dan bumbu khas Osing.

5. Apakah wisatawan boleh mengikuti Tumpeng Sewu?

Tumpeng Sewu telah berkembang menjadi salah satu daya tarik wisata budaya Kemiren dan pengunjung dapat menyaksikan tradisi tersebut. Namun wisatawan tetap perlu menghormati doa, prosesi adat, dan aturan masyarakat setempat.