Mengenal UMKM Lokal di Desa Kemiren, Penggerak Ekonomi Kampung Osing

Ketika berkunjung ke Desa Kemiren, wisatawan mungkin pertama kali tertarik pada rumah adat, Tari Gandrung, Barong Ider Bumi, atau tradisi Tumpeng Sewu.

Namun di balik kekayaan budaya tersebut, ada aktivitas ekonomi warga yang tidak kalah menarik untuk diperhatikan. UMKM lokal di Desa Kemiren tumbuh berdampingan dengan perkembangan desa wisata.

Masyarakat menjual makanan khas, mengolah kopi, menyediakan penginapan, menawarkan batik, hingga mengubah keterampilan budaya menjadi pengalaman wisata.

Menurut Pokdarwis Kemiren, pada awal 2026 terdapat 22 usaha kecil dan menengah yang bergerak terutama di sektor makanan, minuman, dan sandang. Desa tersebut juga memiliki sekitar 40 homestay milik warga.

Menariknya, ekonomi wisata Kemiren tidak hanya melibatkan anak muda. Warga lanjut usia pun bisa memperoleh penghasilan melalui keterampilan memasak dan aktivitas lainnya.

Inilah yang membuat Kemiren menarik: budaya tidak hanya dipertahankan sebagai warisan, tetapi juga menjadi modal ekonomi yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Desa Wisata Membuka Ruang bagi UMKM Kemiren

Perkembangan Kemiren sebagai desa wisata menjadi salah satu faktor penting yang mendorong tumbuhnya usaha lokal.

Jadesta Kementerian Pariwisata menyebut keberadaan Desa Wisata Adat Osing Kemiren telah mendorong perkembangan ekonomi kreatif berbasis masyarakat.

Batik khas Banyuwangi, pecel pitik, dan Kopi Kemiren Jaran Goyang tercatat sebagai produk unggulan yang dapat dinikmati maupun dibawa pulang wisatawan.

Model ekonomi seperti ini cukup menarik karena uang yang dibelanjakan wisatawan tidak hanya berhenti pada tiket masuk.

Pengunjung dapat membeli makanan, menginap di rumah warga, membeli kopi kemasan, mengikuti workshop, menggunakan jasa pemandu, atau membeli produk kerajinan.

Semakin lama wisatawan tinggal dan semakin banyak aktivitas yang mereka ikuti, semakin besar pula peluang uang berputar di tingkat desa.

Karena itu, UMKM di Kemiren sebenarnya menjadi bagian penting dari ekosistem pariwisata, bukan sekadar pelengkap.

1. Kuliner Osing Menjadi Salah Satu Usaha Paling Menjanjikan

Salah satu sektor UMKM yang paling mudah ditemui adalah kuliner khas Osing.

Pecel pitik dan ayam kesrut termasuk makanan yang banyak dicari wisatawan. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bahkan mendokumentasikan bagaimana warga lanjut usia seperti Mbah Ning tetap bisa memperoleh penghasilan dengan memasak kedua menu tersebut untuk tamu yang datang.

Hal tersebut menunjukkan bahwa resep keluarga ternyata memiliki nilai ekonomi.

Keterampilan memasak yang sebelumnya terutama digunakan untuk kebutuhan rumah tangga atau acara adat dapat berkembang menjadi jasa kuliner ketika desa mulai ramai dikunjungi.

Kemiren juga memiliki Pasar Kampoeng Osing, yang menjadi ruang bagi wisatawan untuk mencicipi makanan lokal seperti tape buntut, kucur, dan sajian tradisional lainnya.

Pasar ini digelar di kawasan Dusun Krajan dan juga menghadirkan kopi serta pertunjukan kesenian lokal.

Pasar seperti ini penting karena memberi pelaku usaha kecil tempat bertemu langsung dengan pembeli tanpa harus membuka restoran besar.

2. Kopi Kemiren Jaran Goyang dan Nilai Tambah Produk Lokal

Kopi menjadi contoh menarik bagaimana sebuah produk sederhana dapat dikembangkan menjadi berbagai sumber pendapatan.

Kopi Kemiren Jaran Goyang tercatat sebagai salah satu produk UMKM Desa Kemiren. Produk tersebut memiliki beberapa varian, termasuk robusta, robusta lanang, arabika, dan arabika lanang.

Namun masyarakat tidak hanya menjual kopi dalam kemasan.

Wisatawan juga dapat mengikuti pengalaman mengolah kopi secara tradisional, mulai dari menyangrai, menumbuk, menyaring, hingga menyeduhnya menggunakan cangkir antik warisan keluarga.

Di sinilah prinsip ekonomi kreatif bekerja.

Satu komoditas dapat menghasilkan beberapa produk sekaligus: kopi kemasan, minuman siap konsumsi, wisata edukasi, hingga pengalaman budaya.

Jadesta juga mencatat upaya peningkatan kualitas UMKM melalui sertifikasi SNI untuk Kopi Kemiren Jaran Goyang.

Artinya, pengembangan usaha tidak berhenti pada promosi budaya. Standar kualitas produk juga perlu diperhatikan agar UMKM mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

3. Batik dan Kerajinan sebagai Ekonomi Kreatif

Selain makanan dan minuman, sektor sandang serta kerajinan memiliki peluang besar.

Batik khas Banyuwangi termasuk produk unggulan yang diperkenalkan melalui Desa Wisata Kemiren. Pengunjung juga dapat mengikuti paket wisata membatik, sehingga aktivitas budaya sekaligus menjadi produk jasa.

Konsep seperti ini memberi nilai tambah.

Jika hanya menjual kain, pendapatan datang dari satu transaksi produk. Tetapi ketika wisatawan mengikuti proses membatik, perajin juga menjual keterampilan, cerita, dan pengalaman.

Hubungan Kemiren dengan ekonomi kreatif sebenarnya sudah mendapat perhatian sejak beberapa tahun lalu.

Pada 2017, Badan Ekonomi Kreatif melakukan kunjungan ke Desa Adat Kemiren serta sejumlah pelaku UKM batik dan kerajinan sebagai bagian dari rencana kolaborasi pengembangan ekonomi kreatif di Banyuwangi.

Bagi generasi muda, bidang ini memiliki potensi besar.

Motif tradisional bisa dikembangkan menjadi pakaian kasual, tas, aksesori, suvenir, hingga produk dekoratif tanpa harus meninggalkan karakter budaya Osing.

4. Homestay Membuat Rumah Warga Menjadi Aset Ekonomi

UMKM Kemiren tidak hanya berbentuk barang.

Sektor jasa juga berkembang melalui homestay milik masyarakat. Pada 2025, Pokdarwis mencatat terdapat sekitar 40 homestay di Kemiren, sebagian besar berupa rumah tinggal warga yang juga digunakan untuk menerima wisatawan.

Model homestay memiliki dampak yang cukup luas.

Wisatawan yang menginap tidak hanya membayar kamar. Mereka juga dapat memesan sarapan, membeli makanan, menggunakan jasa transportasi lokal, mengikuti kegiatan budaya, atau berbelanja produk warga.

Kemiren bahkan memperoleh penghargaan ASEAN Tourism Award 2025 dalam kategori homestay, yang memperkuat posisi akomodasi berbasis masyarakat sebagai salah satu bagian penting pengembangan pariwisata desa.

Keunggulan homestay bukan hanya harga.

Wisatawan mendapat kesempatan tinggal lebih dekat dengan kehidupan masyarakat Osing, sementara pemilik rumah memperoleh penghasilan tambahan dari aset yang sudah dimiliki.

5. Kesenian Juga Bisa Menjadi Bagian Ekonomi Lokal

Biasanya orang tidak langsung memasukkan sanggar seni ke dalam pembahasan UMKM. Namun di desa wisata berbasis budaya, kesenian juga memiliki dampak ekonomi.

Pada 2026, Pokdarwis mencatat terdapat 18 sanggar kesenian di Kemiren yang aktif melestarikan budaya Osing.

Kegiatan seperti belajar menari tradisional, memainkan musik gedhogan, atau mengikuti pertunjukan dapat dijual sebagai paket pengalaman wisata. Jadesta bahkan mencantumkan sejumlah kegiatan tersebut sebagai produk wisata resmi Kemiren.

Dengan cara ini, seniman tidak harus mengandalkan pertunjukan besar untuk memperoleh pendapatan.

Mereka dapat menjadi pelatih, pemandu budaya, pemain dalam paket wisata, atau pengisi kegiatan untuk kelompok sekolah dan wisatawan.

Ini merupakan model ekonomi kreatif yang menarik karena pelestarian budaya justru menciptakan pekerjaan.

Semakin banyak generasi muda memiliki peluang ekonomi dari seni tradisional, semakin besar pula alasan mereka untuk terus mempelajarinya.

6. Festival Budaya Membuka Pasar bagi Produk Warga

Kemiren memiliki berbagai event besar seperti Barong Ider Bumi, Tumpeng Sewu, Ngopi Sepuluh Ewu, dan Festival Gedhogan.

Jadesta menyebut festival-festival tersebut efektif sebagai sarana promosi desa sekaligus mengangkat potensi ekonomi kreatif, budaya, dan atraksi lokal.

Ketika sebuah festival menarik ribuan pengunjung, dampaknya bisa menyebar ke banyak pelaku usaha.

Warung mendapat pembeli tambahan, homestay memperoleh tamu, produk kopi lebih dikenal, makanan tradisional lebih banyak dipesan, dan kerajinan memiliki pasar baru.

Festival Ngopi Sepuluh Ewu menjadi contoh yang mudah dilihat. Rumah-rumah warga berubah menjadi ruang menerima pengunjung dan gerai kopi tradisional ikut menjadi bagian dari pengalaman wisata Kemiren.

Dengan begitu, event budaya bukan sekadar pengeluaran untuk mengadakan hiburan.

Jika dikelola dengan baik, festival dapat berfungsi sebagai etalase besar untuk UMKM lokal.

7. Pariwisata Membuka Peluang bagi Generasi Muda

Salah satu dampak paling menarik dari ekonomi wisata Kemiren adalah terbukanya pekerjaan di desa.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mendokumentasikan anak muda Kemiren yang menawarkan jasa wisata sekaligus menerima pesanan makanan khas dari pengunjung.

Perkembangan pariwisata membuat sebagian generasi muda tidak harus meninggalkan desa hanya untuk mencari penghasilan.

Hal ini penting bagi keberlanjutan budaya.

Jika ekonomi hanya tersedia di kota, anak muda mempunyai alasan kuat untuk pindah. Sebaliknya, ketika budaya, kuliner, kerajinan, dan pariwisata menghasilkan pendapatan, tinggal di desa menjadi pilihan yang lebih masuk akal.

UMKM kemudian memiliki fungsi ganda.

Mereka menciptakan lapangan kerja sekaligus membantu menjaga pengetahuan lokal tetap diwariskan.

Seorang anak muda bisa memperoleh penghasilan dengan menjadi pemandu wisata, menjual produk secara online, mengelola homestay, atau mempromosikan kuliner keluarga melalui media sosial.

Tantangan UMKM Kemiren di Tengah Pertumbuhan Wisata

Meningkatnya popularitas Kemiren tentu membawa tantangan.

Produk lokal perlu memiliki kualitas yang konsisten, kemasan yang baik, harga yang transparan, serta pemasaran digital agar mampu bersaing.

Jadesta sendiri menempatkan digitalisasi manajemen dan peningkatan kualitas produk UMKM sebagai bagian dari arah pengembangan Desa Wisata Kemiren.

Pelaku usaha juga perlu menjaga keseimbangan antara kebutuhan wisatawan dan keaslian budaya.

Pecel pitik, misalnya, sebaiknya tidak kehilangan karakter hanya karena ingin mengikuti selera pasar. Begitu pula batik dan kerajinan perlu berinovasi tanpa menjadikan simbol budaya sekadar dekorasi tanpa makna.

Kolaborasi menjadi kunci.

Pokdarwis, pemerintah desa, pelaku UMKM, kelompok seni, pemilik homestay, dan generasi muda perlu saling terhubung agar wisatawan tidak hanya datang, tetapi juga benar-benar membelanjakan uangnya pada produk masyarakat lokal.

Cara Wisatawan Mendukung UMKM Kemiren

Mendukung UMKM lokal sebenarnya tidak rumit. Ketika berkunjung, pilih produk yang benar-benar dibuat atau dikelola warga.

Sarapan di warung lokal, membeli kopi Kemiren, mencoba pecel pitik, menginap di homestay, mengikuti kelas membatik, atau membayar pengalaman belajar seni tradisional merupakan beberapa contoh sederhana.

Datang ke Pasar Kampoeng Osing pada Minggu pagi juga menjadi cara menarik untuk bertemu langsung dengan pelaku kuliner setempat.

Jangan hanya mengejar harga termurah.

Produk kerajinan dan makanan tradisional membawa keterampilan, tenaga kerja, dan pengetahuan budaya yang tidak selalu terlihat dari benda akhirnya.

Semakin besar bagian pengeluaran wisatawan yang langsung diterima masyarakat, semakin besar pula manfaat pariwisata bagi desa.

UMKM lokal di Desa Kemiren memperlihatkan bagaimana budaya dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi tanpa harus kehilangan identitasnya.

Kuliner Osing, Kopi Kemiren Jaran Goyang, batik, kerajinan, homestay, hingga jasa kesenian menjadi bagian dari ekosistem usaha yang tumbuh bersama desa wisata.

Data Pokdarwis pada 2026 mencatat 22 usaha kecil-menengah, sekitar 40 homestay, dan 18 sanggar seni yang hidup di Kemiren. Angka tersebut menunjukkan bahwa pariwisata berbasis budaya dapat melibatkan banyak lapisan masyarakat.

Jika berkunjung ke Kemiren, jangan hanya datang untuk mengambil foto tradisi. Belilah produk lokal, makan di warung warga, menginap di homestay, atau ikuti pengalaman budaya.

Pengeluaran kecil dari wisatawan bisa menjadi dukungan nyata bagi ekonomi sekaligus pelestarian budaya Osing.

FAQ

1. Berapa jumlah UMKM di Desa Kemiren?

Menurut data Pokdarwis yang dipublikasikan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pada Februari 2026, terdapat sekitar 22 usaha kecil dan menengah yang bergerak antara lain di bidang makanan, minuman, dan sandang.

2. Apa produk UMKM unggulan Desa Kemiren?

Jadesta mencatat batik khas Banyuwangi, pecel pitik, dan Kopi Kemiren Jaran Goyang sebagai beberapa produk unggulan Desa Wisata Adat Osing Kemiren.

3. Apakah ada pasar UMKM di Kemiren?

Ada Pasar Kampoeng Osing, yang menghadirkan kuliner lokal, kopi, serta pertunjukan kesenian dan menjadi salah satu atraksi wisata Desa Kemiren.

4. Apakah warga Kemiren menyediakan homestay?

Ya. Pada 2025-2026 terdapat sekitar 40 homestay yang sebagian besar dikelola warga lokal.

5. Bagaimana wisatawan bisa mendukung UMKM Kemiren?

Wisatawan dapat membeli produk lokal, menikmati kuliner warga, menginap di homestay, mengikuti kelas membatik atau pengolahan kopi, serta menggunakan jasa wisata yang dikelola masyarakat.