Di Desa Kemiren, Banyuwangi, barong bukan sekadar kostum besar dengan wajah mencolok yang menari mengikuti iringan musik.
Bagi masyarakat Osing setempat, keberadaan Barong Kemiren berhubungan erat dengan cerita leluhur, keselamatan kampung, kebersamaan warga, dan tradisi yang telah diwariskan selama beberapa generasi.
Salah satu momen terpentingnya bisa dilihat dalam ritual Barong Ider Bumi, yang dilaksanakan setiap 2 Syawal atau hari kedua Idul Fitri. Barong diarak menyusuri desa bersama masyarakat, disertai doa, taburan beras kuning, bunga, uang logam, hingga selamatan bersama.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mencatat tradisi tersebut sebagai ritual bersih desa yang ditujukan untuk memohon keselamatan dan menjauhkan masyarakat dari bala atau marabahaya.
Di balik ritual itu tersimpan filosofi yang jauh lebih luas daripada sekadar “mengusir kesialan”. Ada hubungan antara manusia, lingkungan, leluhur, Tuhan, dan solidaritas masyarakat yang membuat Barong Kemiren tetap relevan hingga sekarang.
Apa Itu Barong Kemiren?
Barong Kemiren merupakan kesenian tradisional masyarakat Osing yang berkembang di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi.
Barong memiliki bentuk berupa figur besar dengan bagian kepala menyerupai makhluk fantastis, lengkap dengan mahkota, ornamen, serta tubuh yang dimainkan oleh pelaku kesenian.
Dalam konteks Kemiren, barong bukan hanya properti pertunjukan. Keberadaannya memiliki nilai sakral dan berkaitan dengan tradisi desa.
Penelitian mengenai kesenian Barong Kemiren juga menunjukkan bahwa kesenian ini membawa nilai-nilai karakter dan dapat digunakan sebagai sumber untuk memahami sejarah lokal masyarakat.
Perlu dibedakan pula antara kesenian Barong Kemiren dan Barong Ider Bumi. Barong Kemiren merupakan tradisi keseniannya secara lebih luas, sedangkan Barong Ider Bumi merupakan ritual tahunan ketika barong diarak mengelilingi wilayah desa.
Kemiren sendiri dikenal sebagai salah satu pusat pelestarian budaya Osing. Selain Barong Ider Bumi, desa ini mempertahankan beragam tradisi seperti Tumpeng Sewu, Mocoan Lontar Yusuf, kesenian Gandrung, angklung paglak, dan berbagai tradisi lainnya.
Asal-Usul Barong Ider Bumi dan Kisah Pageblug
Cerita mengenai Barong Ider Bumi sangat berkaitan dengan masa ketika Kemiren disebut pernah mengalami pageblug, istilah lokal untuk wabah atau musibah yang melanda masyarakat.
Menurut penuturan tokoh adat yang didokumentasikan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pada 2025, ritual Barong Ider Bumi diperkirakan mulai dilakukan sekitar 1840-an.
Saat itu dikisahkan terjadi wabah penyakit, banyak korban jiwa, serangan hama tanaman, gagal panen, serta masa paceklik.
Dalam tradisi tutur masyarakat, para sesepuh kemudian mencari jalan keluar dan meminta petunjuk yang dikaitkan dengan Buyut Cili, salah satu leluhur penting dalam kepercayaan lokal Kemiren.
Cerita yang diwariskan menyebut adanya petunjuk melalui mimpi agar masyarakat mengadakan selamatan sekaligus mengarak barong mengelilingi kampung. Ritual tersebut kemudian diteruskan dari generasi ke generasi sebagai bentuk permohonan keselamatan.
Karena berasal dari tradisi tutur, kisah ini lebih tepat dipahami sebagai narasi budaya masyarakat, bukan sebagai catatan sejarah tertulis yang setiap detailnya dapat diverifikasi secara administratif.
Justru di situlah nilainya. Cerita tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat Kemiren memahami pengalaman menghadapi wabah dan bencana melalui doa, ritual, serta tindakan bersama.
Apa Arti “Ider Bumi”?
Nama ritual ini sebenarnya sudah menjelaskan bagian penting dari prosesi.
Dalam penjelasan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, kata ider berarti berkeliling, sementara bumi merujuk pada tempat berpijak atau wilayah kehidupan. Jadi, Ider Bumi secara sederhana dapat dipahami sebagai kegiatan mengelilingi wilayah tempat masyarakat tinggal.
Pada pelaksanaannya, barong diarak dari bagian timur menuju barat Desa Kemiren dengan menempuh perjalanan sekitar dua kilometer. Warga, tokoh adat, pemain musik, dan masyarakat lainnya mengikuti arak-arakan tersebut.
Mengelilingi desa memiliki makna simbolis yang kuat.
Barong seolah dibawa melewati ruang hidup masyarakat-jalan, rumah, lingkungan pertanian, dan kawasan tempat warga beraktivitas. Dengan demikian, doa keselamatan tidak hanya diarahkan kepada individu tertentu, tetapi mencakup seluruh wilayah komunitas.
Filosofi Tolak Balak dalam Barong Kemiren
Istilah tolak balak atau tolak bala pada dasarnya merujuk pada upaya memohon perlindungan agar masyarakat dijauhkan dari musibah, penyakit, bencana, maupun berbagai hal buruk.
Dalam Barong Ider Bumi, filosofi tersebut tidak berdiri sendiri. Ritualnya menggabungkan doa, simbol, perjalanan mengelilingi desa, dan selamatan bersama.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mencatat bahwa masyarakat memandang Barong Ider Bumi sebagai bentuk ikhtiar untuk memohon keselamatan dari bencana dan pageblug.
Dalam prosesi, doa-doa ditujukan kepada Tuhan, sementara cerita tentang Buyut Cili menghubungkan tradisi tersebut dengan penghormatan terhadap sejarah leluhur desa.
Karena itu, “tolak balak” sebaiknya tidak hanya dipahami secara harfiah sebagai tindakan mistis untuk mengusir sesuatu yang buruk.
Secara sosial, ritual tersebut juga dapat dibaca sebagai cara masyarakat menghadapi ketidakpastian secara bersama-sama. Saat seluruh kampung berkumpul, berdoa, berjalan bersama, dan makan bersama, rasa solidaritas ikut diperkuat.
Sembur Uthik-Uthik sebagai Simbol Menolak Keburukan
Salah satu prosesi menarik dalam Barong Ider Bumi adalah sembur uthik-uthik atau sembur otik-otik.
Sebelum barong mulai diarak, tetua menebarkan campuran beras kuning, bunga, dan uang logam. Dalam penjelasan tokoh adat Kemiren, prosesi tersebut merupakan simbol tolak bala sekaligus usaha mengusir penyakit dan keburukan dari desa.
Pada beberapa dokumentasi pemerintah daerah, uang logam yang ditebarkan juga dikaitkan dengan ungkapan syukur atas rezeki yang telah diterima masyarakat.
Dari sini terlihat bahwa simbol dalam tradisi tidak selalu mempunyai satu arti tunggal.
Sembur uthik-uthik dapat membawa makna keselamatan, rasa syukur, sekaligus harapan agar kehidupan masyarakat pada tahun berikutnya berjalan lebih baik.
Doa, Macapat, dan Unsur Spiritual dalam Ritual
Arak-arakan Barong Kemiren tidak berlangsung dalam suasana hiburan semata.
Dalam prosesi Ider Bumi, rombongan diiringi tembang atau macapat yang berisi doa. Dokumentasi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyebut doa dan tembang tersebut berkaitan dengan permohonan keselamatan kepada Tuhan.
Pada rangkaian tertentu, prosesi juga diawali dengan doa di petilasan Buyut Cili.
Tradisi ini menunjukkan pertemuan antara penghormatan terhadap warisan leluhur dan kehidupan religius masyarakat masa kini. Pada akhir acara, selamatan bahkan dibuka dengan doa dalam bahasa Osing dan bahasa Arab sebelum masyarakat makan bersama.
Hal tersebut menjadi salah satu karakter menarik budaya Osing Kemiren.
Tradisi lama tidak selalu berdiri berlawanan dengan praktik keagamaan masyarakat. Keduanya berkembang dalam ruang sosial yang sama dan membentuk ekspresi budaya khas setempat.
Pecel Pitik dan Makna Makan Bersama
Puncak ritual Barong Ider Bumi biasanya diakhiri dengan selamatan bersama.
Warga duduk di sepanjang jalan desa dan menikmati makanan khas, salah satunya pecel pitik. Hidangan ini dibuat dari ayam kampung yang dipadukan dengan kelapa berbumbu dan menjadi kuliner yang sangat lekat dengan tradisi masyarakat Osing.
Makan bersama mempunyai makna sosial yang sangat penting.
Setelah sebelumnya warga berjalan mengelilingi kampung, pada akhir acara mereka berkumpul dalam posisi yang relatif setara. Tetangga, keluarga, tokoh adat, dan tamu menikmati makanan di ruang yang sama.
Di sinilah filosofi tolak balak memiliki dimensi lain.
Keselamatan desa tidak hanya dibayangkan sebagai terbebas dari penyakit atau bencana. Desa yang “selamat” juga berarti masyarakatnya tetap rukun, saling terhubung, dan mampu menjaga kebersamaan.
Barong Kemiren sebagai Simbol Persatuan
Filosofi Barong Kemiren juga dapat ditemukan melalui bentuk visualnya.
Dalam penuturan pelaku budaya yang didokumentasikan media lokal, bagian rumbai-rumbai pada Barong Kemiren diibaratkan sebagai keluarga besar: anak, cucu, menantu, orang tua, dan berbagai generasi lain. Ketika semuanya bersatu, komunitas menjadi lebih kuat.
Pemaknaan ini membuat Barong bukan sekadar sosok penjaga secara simbolis.
Barong juga dapat dibaca sebagai gambaran masyarakat itu sendiri. Banyak bagian berbeda menyatu menjadi satu bentuk besar-mirip dengan sebuah kampung yang terdiri atas banyak keluarga tetapi bergantung satu sama lain.
Penelitian mengenai Barong Kemiren bahkan menunjukkan bahwa aktivitas pertunjukan tersebut ikut membentuk identitas ruang Desa Kemiren. Jalan, lapangan, dan ruang publik memperoleh makna budaya karena digunakan bersama dalam pelaksanaan kesenian.
Dengan kata lain, Barong membantu masyarakat bukan hanya mengingat tradisinya, tetapi juga merasakan keterikatan dengan tempat tinggal mereka.
Dari Ritual Sakral Menjadi Daya Tarik Budaya
Sekarang Barong Ider Bumi juga menarik banyak wisatawan.
Ritual ini telah masuk dalam agenda budaya Banyuwangi, sementara Desa Kemiren berkembang sebagai desa wisata adat dengan berbagai atraksi berbasis kebudayaan Osing.
Jadesta Kementerian Pariwisata bahkan mencantumkan Barong Ider Bumi sebagai salah satu acara tahunan yang menjadi daya tarik Desa Wisata Adat Osing Kemiren.
Perubahan tersebut membawa peluang sekaligus tantangan.
Pariwisata membantu tradisi dikenal lebih luas, memberi ruang bagi generasi muda untuk terlibat, dan dapat mendukung ekonomi masyarakat. Namun sebuah ritual yang memiliki arti khusus bagi warga tentu tidak ideal jika hanya diperlakukan sebagai tontonan.
Wisatawan sebaiknya memahami bahwa mereka sedang menyaksikan tradisi hidup, bukan pertunjukan yang sepenuhnya dibuat untuk kamera.
Mengikuti arahan warga, tidak menghalangi prosesi, berpakaian sopan, dan menghormati bagian ritual yang dianggap sakral merupakan bentuk penghargaan sederhana tetapi penting.
Mengapa Filosofi Tolak Balak Masih Relevan?
Masyarakat modern mungkin memahami penyakit, gagal panen, dan bencana dengan pendekatan ilmu pengetahuan yang jauh lebih maju daripada masyarakat pada abad ke-19.
Namun bukan berarti nilai Barong Ider Bumi kehilangan relevansi.
Inti tradisinya justru menyentuh sesuatu yang masih dibutuhkan hingga sekarang: solidaritas ketika menghadapi kesulitan.
Wabah, bencana alam, masalah ekonomi, ataupun krisis sosial terasa lebih berat jika setiap orang menghadapi semuanya sendirian.
Dalam ritual Kemiren, masyarakat belajar berkumpul, berdoa, berbagi makanan, dan mengingat kembali bahwa keselamatan kampung adalah tanggung jawab bersama.
Kajian mengenai Barong Ider Bumi juga menunjukkan bahwa tradisi tersebut berkaitan dengan ketahanan budaya dan keberlanjutan identitas lokal masyarakat Osing.
Mungkin inilah salah satu alasan tradisi tersebut mampu bertahan begitu lama.
Bentuk acaranya dapat berubah mengikuti zaman, tetapi nilai kebersamaan yang menjadi dasarnya tetap relevan.
Barong Kemiren dan filosofi tolak balak memperlihatkan bagaimana sebuah kesenian dapat memiliki kedudukan jauh lebih dalam daripada sekadar hiburan.
Melalui Barong Ider Bumi, masyarakat Osing Kemiren menghubungkan cerita leluhur, doa keselamatan, simbol perlindungan, rasa syukur, dan kebersamaan dalam satu rangkaian tradisi.
Kisah pageblug, Buyut Cili, sembur uthik-uthik, arak-arakan barong, hingga selamatan pecel pitik menjadi bagian dari ingatan kolektif yang terus diwariskan.
Jika berkunjung ke Kemiren saat Barong Ider Bumi digelar, cobalah melihat lebih dari sekadar bentuk barong yang unik. Amati bagaimana seluruh desa terlibat.
Dari sanalah filosofi sebenarnya terlihat: menjaga keselamatan juga berarti menjaga hubungan antarmanusia, warisan leluhur, dan rasa memiliki terhadap kampung sendiri.
FAQ
1. Apa itu Barong Kemiren?
Barong Kemiren adalah kesenian tradisional masyarakat Osing di Desa Kemiren, Banyuwangi. Barong ini memiliki fungsi kesenian sekaligus kedudukan penting dalam tradisi ritual desa.
2. Kapan Barong Ider Bumi dilaksanakan?
Barong Ider Bumi dilaksanakan setiap 2 Syawal, atau hari kedua Idul Fitri, di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.
3. Apa tujuan Barong Ider Bumi?
Tradisi tersebut dilaksanakan sebagai bentuk permohonan keselamatan dan tolak bala agar masyarakat dijauhkan dari penyakit, bencana, serta berbagai marabahaya.
4. Apa arti sembur uthik-uthik?
Sembur uthik-uthik adalah prosesi menebarkan beras kuning, bunga, dan uang logam. Dalam tradisi Kemiren, tindakan tersebut dimaknai sebagai simbol menolak keburukan, penyakit, dan bala.
5. Siapa Buyut Cili dalam cerita Barong Kemiren?
Buyut Cili merupakan figur leluhur yang sangat penting dalam tradisi tutur masyarakat Kemiren. Kisah tentangnya berkaitan erat dengan asal-usul pelaksanaan Barong Ider Bumi saat desa dipercaya mengalami pageblug.