Di Desa Kemiren, Banyuwangi, makan bersama bukan sekadar urusan mengisi perut. Pada waktu tertentu menjelang Idul Adha, jalan utama desa berubah menjadi ruang selamatan besar.
Warga keluar dari rumah membawa tumpeng, duduk berjejer di depan kediaman masing-masing, lalu berdoa dan menyantap makanan bersama.
Tradisi tersebut dikenal sebagai Tumpeng Sewu, salah satu ritual budaya penting masyarakat Osing Kemiren.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyebutnya sebagai tradisi turun-temurun sekaligus selamatan desa untuk mengungkapkan rasa syukur dan memohon agar masyarakat dijauhkan dari bencana serta penyakit.
Menariknya, sejarah Tradisi Tumpeng Sewu masyarakat Osing tidak sesederhana cerita tentang “seribu nasi tumpeng”. Sebelum berkembang sebagai festival yang menarik wisatawan, tradisi ini merupakan bagian dari ritual bersih desa masyarakat Kemiren.
Di baliknya terdapat cerita leluhur, hubungan dengan Buyut Cili, hidangan pecel pitik, tradisi Mepe Kasur, sampai perubahan cara masyarakat mengemas warisan budaya tanpa meninggalkan fungsi sosialnya.
Tumpeng Sewu Berawal dari Tradisi Selamatan Kampung
Pada dasarnya, Tumpeng Sewu merupakan selamatan kampung masyarakat Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.
Penelitian Universitas Negeri Surabaya menjelaskan bahwa sebelum dikenal luas sebagai festival, Tumpeng Sewu merupakan ritual bersih desa yang diikuti masyarakat Kemiren.
Setiap keluarga membuat tumpeng pecel pitik dan menikmatinya bersama sebagai bagian dari rasa syukur dan doa keselamatan.
Dengan demikian, bentuk awal tradisi ini tidak lahir sebagai atraksi wisata.
Ia berkembang dari kebutuhan masyarakat sendiri untuk berkumpul, berdoa, menjaga hubungan sosial, serta meneruskan kebiasaan leluhur.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga secara konsisten menyebut Tumpeng Sewu sebagai warisan adat yang telah dijalankan secara turun-temurun.
Usia pasti tradisi ini sulit ditentukan karena sebagian besar kisah awalnya diwariskan melalui penuturan masyarakat.
Karena itulah, sejarah Tumpeng Sewu sebaiknya dipahami melalui dua jalur: catatan modern mengenai pelaksanaannya dan tradisi lisan yang menjelaskan mengapa ritual tersebut terus dijalankan.
Cerita Buyut Cili dalam Asal-Usul Tumpeng Sewu
Salah satu kisah lokal paling menarik mengenai asal Tumpeng Sewu berhubungan dengan Buyut Cili, sosok leluhur yang memiliki kedudukan penting dalam tradisi masyarakat Kemiren.
Dalam dokumentasi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi tahun 2015, sesepuh adat Juhadi Timbul menceritakan bahwa suatu ketika seorang warga bernama Mbah Ramisin berteriak meminta pertolongan karena mengalami kesurupan.
Dalam keadaan tersebut, ia dipercaya menyampaikan pesan dari Buyut Cili agar warga mengadakan selamatan setiap tahun.
Selamatan itu kemudian dikaitkan dengan doa agar Kemiren dijauhkan dari bencana, penyakit, serta berbagai marabahaya.
Perlu dicatat, kisah ini merupakan tradisi tutur masyarakat, sehingga tidak tepat diperlakukan sebagai kronologi sejarah tertulis yang dapat diverifikasi sampai detail peristiwanya.
Namun bagi masyarakat lokal, cerita seperti ini sangat penting karena menjelaskan hubungan antara ritual, leluhur, dan identitas desa.
Dari generasi ke generasi, selamatan tetap dijalankan. Bentuknya kemudian berkembang menjadi ritual makan bersama yang kini dikenal sebagai Tumpeng Sewu.
Mengapa Disebut Tumpeng Sewu?
Kata sewu berarti seribu. Meski demikian, nama Tumpeng Sewu tidak berarti jumlah tumpeng yang disajikan harus tepat seribu buah.
Setiap keluarga Kemiren umumnya menyediakan sedikitnya satu tumpeng di depan rumah. Bahkan dalam pelaksanaan terkini, sebuah keluarga dapat membuat beberapa tumpeng karena kerabat dari luar desa juga datang untuk makan bersama.
Penelitian mengenai pengembangan wisata Kemiren juga memberikan gambaran menarik tentang sejarah nama tersebut. Ritual awalnya berupa selamatan kampung yang dilakukan masyarakat di lingkungan masing-masing.
Setelah jumlah wisatawan meningkat dan masyarakat bersama pemangku kepentingan mulai mengemasnya sebagai kegiatan bersama, pelaksanaannya dibuat lebih serentak di sepanjang jalan desa dan kemudian semakin dikenal dengan nama Tumpeng Sewu.
Karena itu, “sewu” lebih tepat dipahami sebagai gambaran mengenai banyaknya tumpeng sekaligus besarnya partisipasi warga.
Satu keluarga menyumbang beberapa hidangan, lalu kontribusi tersebut bergabung menjadi sebuah jamuan berskala desa.
Tumpeng Sewu dan Bulan Dzulhijjah
Tradisi Tumpeng Sewu dilaksanakan menjelang Hari Raya Idul Adha.
Beberapa dokumentasi menyebut pelaksanaannya pada awal bulan Dzulhijjah, sedangkan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kerap menjelaskannya sebagai tradisi yang berlangsung sekitar satu minggu sebelum Idul Adha.
Perbedaan penyebutan tersebut dapat terjadi karena penentuan hari pelaksanaan mengikuti kesepakatan adat dan kalender pada tahun bersangkutan.
Pada malam pelaksanaan, jalan desa menjadi pusat kegiatan. Tumpeng disiapkan di depan rumah, masyarakat duduk di atas tikar, kemudian acara makan baru dimulai setelah doa dipanjatkan.
Suasana biasanya semakin khas dengan cahaya obor yang dipasang di sepanjang kawasan permukiman.
Tumpeng Sewu dengan demikian bukan hanya “festival makanan”, melainkan puncak dari rangkaian selamatan yang memiliki konteks spiritual dan sosial.
Mepe Kasur sebagai Bagian Rangkaian Bersih Desa
Sebelum Tumpeng Sewu dimulai pada malam hari, masyarakat Kemiren memiliki tradisi lain yang disebut Mepe Kasur.
Secara sederhana, mepe kasur berarti menjemur kasur. Warga mengeluarkan kasur dari rumah dan menjemurnya secara serentak di halaman sejak pagi. Banyak kasur tradisional Kemiren memiliki kombinasi warna merah dan hitam.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian bersih desa.
Menurut penuturan masyarakat yang dicatat pemerintah daerah, menjemur kasur dikaitkan dengan kebersihan sekaligus harapan agar keluarga dijauhkan dari penyakit dan marabahaya.
Setelah proses itu selesai, rangkaian tradisi berlanjut hingga selamatan Tumpeng Sewu pada malam hari.
Hubungan Mepe Kasur dengan Tumpeng Sewu memperlihatkan bahwa ritual ini sebenarnya lebih luas daripada kegiatan makan bersama.
Seluruh rangkaiannya menggambarkan gagasan tentang membersihkan rumah, menjaga desa, memohon keselamatan, dan memperbarui hubungan antarwarga.
Pecel Pitik, Hidangan yang Tidak Terpisahkan dari Tradisi
Kalau ada satu makanan yang hampir selalu muncul ketika membahas Tumpeng Sewu, jawabannya adalah pecel pitik.
Pecel pitik dibuat menggunakan ayam kampung yang dipanggang lalu dicampur dengan parutan kelapa dan racikan bumbu khas Osing. Hidangan tersebut menjadi lauk utama yang disajikan bersama nasi tumpeng.
Kehadiran pecel pitik menunjukkan bahwa makanan tradisional dapat menjadi bagian penting dari warisan budaya.
Resep tidak hanya diwariskan sebagai pengetahuan dapur. Ia hadir dalam ritual tertentu sehingga setiap generasi mempelajari kapan makanan tersebut dibuat, bagaimana cara menyiapkannya, dan dalam konteks apa ia disantap.
Dokumentasi pemerintah daerah juga mencatat penafsiran lokal terhadap istilah pecel pitik sebagai pesan untuk hidup hemat sekaligus tetap bersyukur.
Apa pun tafsir simboliknya, satu hal terlihat jelas: pecel pitik telah menjadi bagian yang sangat kuat dari identitas Tumpeng Sewu.
Dari Ritual Keluarga Menjadi Selamatan Massal
Perubahan paling penting dalam sejarah Tumpeng Sewu Kemiren terjadi ketika ritual yang sebelumnya lebih berorientasi pada masyarakat desa mulai dikemas secara serentak dan terbuka bagi pengunjung.
Penelitian tentang komunikasi pariwisata Kemiren mencatat bahwa meningkatnya minat wisatawan membuat masyarakat melihat potensi tradisi ini sebagai atraksi budaya.
Melalui diskusi warga dan pemangku kepentingan lokal, pelaksanaannya kemudian ditata secara serentak di jalan utama desa.
Pada 2015, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mencatat bahwa Tumpeng Sewu telah masuk dalam agenda Banyuwangi Festival selama dua tahun sebelumnya. Tujuannya adalah memperkenalkan budaya daerah sekaligus mendukung pelestariannya.
Perubahan tersebut membuat skala acara semakin besar.
Ribuan pengunjung kini dapat hadir dan ikut makan bersama warga. Namun masyarakat tetap mempertahankan doa dan selamatan sebagai inti dari acara.
Dengan kata lain, tradisi mengalami perubahan dalam cara penyajian, tetapi fungsi budayanya tidak sepenuhnya digantikan oleh pariwisata.
Gotong Royong sebagai Inti Tumpeng Sewu
Salah satu alasan Tumpeng Sewu mampu bertahan adalah karena tradisi ini tidak dikerjakan oleh segelintir orang.
Hampir setiap keluarga memiliki peran. Mereka menyiapkan makanan, membuka ruang di depan rumah, menerima tamu, dan ikut dalam rangkaian acara.
Penelitian tahun 2025 mengenai Tumpeng Sewu menemukan bahwa tradisi tersebut menjadi sarana memperkuat identitas Osing sekaligus membawa nilai gotong royong, religiusitas, toleransi, tanggung jawab, dan hubungan sosial antargenerasi.
Generasi muda Kemiren juga semakin banyak terlibat dalam penyelenggaraannya. Hal ini penting karena keberlanjutan sebuah tradisi tidak cukup bergantung pada dokumentasi.
Budaya akan tetap hidup ketika generasi berikutnya bersedia memasak, mengikuti prosesi, memahami ceritanya, dan mengambil tanggung jawab dalam pelaksanaan.
Tumpeng Sewu memberi ruang bagi proses regenerasi tersebut berlangsung secara alami di dalam komunitas.
Makna Syukur dan Tolak Bala
Secara historis dan sosial, ada dua makna yang selalu muncul dalam pelaksanaan Tumpeng Sewu: rasa syukur dan permohonan keselamatan.
Masyarakat berterima kasih atas berbagai berkah yang telah diperoleh sekaligus berdoa agar desa terhindar dari bencana dan penyakit.
Filosofi tersebut juga terlihat dari bentuk acaranya.
Makanan tidak dikonsumsi sendiri-sendiri di dalam rumah. Warga justru membawanya keluar dan membaginya dengan keluarga, tetangga, bahkan orang yang baru mereka kenal.
Dalam pelaksanaan Tumpeng Sewu, pengunjung dari luar Kemiren pun dapat diajak duduk dan makan bersama warga. Pemerintah daerah menyebut keterbukaan tersebut sebagai gambaran keramahan masyarakat Osing Kemiren.
Karena itu, keselamatan dalam tradisi ini dapat dibaca lebih luas. Desa yang baik bukan hanya desa yang bebas dari musibah, tetapi juga komunitas yang tetap rukun dan saling membantu.
Tumpeng Sewu sebagai Identitas Masyarakat Osing
Kini Tumpeng Sewu menjadi salah satu tradisi yang paling mudah dikaitkan dengan Desa Adat Osing Kemiren.
Jadesta Kementerian Pariwisata mencantumkannya sebagai salah satu daya tarik budaya desa bersama Barong Ider Bumi, Ngopi Sepuluh Ewu, rumah adat, Mocoan Lontar Yusuf, dan berbagai seni tradisional lainnya.
Penelitian Universitas Indonesia juga menunjukkan bahwa pelestarian Tumpeng Sewu berkaitan dengan ketahanan budaya daerah.
Pengembangannya dalam konteks pariwisata dapat memberi dampak sosial dan ekonomi, tetapi tetap membutuhkan perhatian agar nilai budaya tidak hilang karena komersialisasi.
Inilah posisi menarik Tumpeng Sewu saat ini.
Ia telah menjadi festival yang dikenal wisatawan, tetapi pada saat bersamaan tetap menjadi ritual yang dimiliki dan dijalankan masyarakat.
Selama warga Kemiren tetap menjadi pelaku utama, tradisi tersebut memiliki peluang besar untuk terus diwariskan.
Sejarah Tradisi Tumpeng Sewu masyarakat Osing memperlihatkan perjalanan sebuah selamatan kampung yang tumbuh menjadi salah satu ikon budaya Kemiren.
Berawal dari ritual turun-temurun untuk bersyukur dan memohon keselamatan, tradisi tersebut berkembang menjadi makan bersama dengan tumpeng pecel pitik yang melibatkan hampir seluruh warga.
Cerita Buyut Cili, Mepe Kasur, doa bersama, gotong royong, dan keterbukaan terhadap tamu membuat Tumpeng Sewu memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar festival kuliner.
Seiring berkembangnya pariwisata, bentuk acaranya boleh berubah, tetapi ruh tradisinya tetap berada pada masyarakat Kemiren.
Jika berkesempatan mengunjungi Banyuwangi menjelang Idul Adha, datanglah ke Kemiren dan lihat sendiri Tumpeng Sewu. Bukan hanya untuk mencicipi pecel pitik, tetapi untuk memahami bagaimana sebuah komunitas menjaga sejarah melalui kebersamaan.
FAQ
1. Dari mana Tradisi Tumpeng Sewu berasal?
Tumpeng Sewu berasal dari tradisi selamatan masyarakat Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun.
2. Kapan Tumpeng Sewu dilaksanakan?
Tumpeng Sewu umumnya digelar pada awal bulan Dzulhijjah atau sekitar satu minggu sebelum Hari Raya Idul Adha.
3. Apakah tumpengnya benar-benar berjumlah seribu?
Tidak harus tepat seribu. Setiap keluarga biasanya menyediakan setidaknya satu tumpeng, sementara beberapa keluarga dapat menyiapkan beberapa buah untuk kerabat dan tamu.
4. Apa makanan khas dalam Tumpeng Sewu?
Menu yang paling identik adalah pecel pitik, yaitu ayam kampung panggang yang dicampur parutan kelapa berbumbu khas masyarakat Osing.
5. Apa tujuan utama Tumpeng Sewu?
Tradisi ini menjadi ungkapan rasa syukur kepada Tuhan sekaligus selamatan untuk memohon keselamatan dan menjauhkan masyarakat dari penyakit maupun marabahaya.