Bagaimana kehidupan masyarakat Osing puluhan tahun lalu? Apa yang digunakan di dalam rumah, kain seperti apa yang disimpan keluarga, bagaimana tradisi membaca naskah diwariskan, dan benda apa saja yang dianggap penting dalam kehidupan sehari-hari?
Salah satu tempat untuk mencari jawabannya adalah Museum Desa Kemiren di Banyuwangi. Museum yang berada di lingkungan Desa Wisata Adat Osing Kemiren ini menyimpan berbagai benda yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat setempat.
Koleksinya mencakup naskah Lontar Yusuf tulisan tangan, batik, keris, peralatan rumah tangga, kinangan, sarung lama, hingga miniatur rumah adat dan barong.
Jadesta Kementerian Pariwisata menempatkan museum tersebut sebagai salah satu wisata edukasi budaya di Kemiren. Menariknya, museum ini tidak terasa seperti ruang sejarah yang sepenuhnya terpisah dari kehidupan desa.
Banyak koleksi berasal dari masyarakat Kemiren sendiri, sehingga benda-benda yang dipamerkan terasa dekat dengan cerita keluarga, adat, dan kebiasaan sehari-hari. Dari sinilah perjalanan mengenal kehidupan Osing tempo dulu menjadi jauh lebih personal.
Mengenal Museum Desa Kemiren
Museum Desa Kemiren merupakan salah satu atraksi budaya di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi.
Kemiren sendiri dikenal sebagai salah satu desa yang kuat mempertahankan identitas masyarakat Osing melalui bahasa, rumah tradisional, kesenian, ritual, kuliner, hingga kehidupan sosialnya.
Menurut keterangan pengelola yang diberitakan TIMES Indonesia, Museum Desa Kemiren diresmikan pada Mei 2022. Koleksinya diperoleh dari masyarakat dan pengembangannya melibatkan pemerintah desa, Pokdarwis, lembaga adat, serta warga Kemiren.
Konsep semacam ini membuat museum memiliki karakter yang menarik.
Ia bukan hanya tempat mengumpulkan benda tua, tetapi ruang tempat masyarakat mendokumentasikan apa yang dianggap penting dari kehidupan generasi sebelumnya.
Karena itulah, ketika masuk ke dalam museum, pengunjung sebenarnya sedang melihat potongan-potongan cerita tentang rumah, pakaian, ritual, kebiasaan membaca, hingga cara masyarakat Osing merawat benda milik keluarga.
Arsitektur Museum Sudah Membawa Nuansa Rumah Osing
Pengalaman mengenal budaya Osing bahkan dimulai sebelum melihat koleksi di dalam museum.
Laporan tentang museum pada 2022 menggambarkan bangunannya menggunakan nuansa rumah adat Osing dengan atap Tikel Balung.
Bagian depan menggunakan elemen kayu dan ornamen bernuansa Banyuwangi, sementara teras atau ngarep umah memberi kesan seperti memasuki sebuah rumah tradisional.
Konsep ini terasa cocok dengan tema museum.
Alih-alih memasukkan benda-benda rumah tangga lama ke dalam bangunan modern yang terasa jauh dari konteksnya, arsitektur tradisional membantu pengunjung membayangkan lingkungan tempat benda tersebut dahulu digunakan.
Desain rumah juga memberi petunjuk bahwa kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari ruang hidup.
Keris, kain, kasur, peralatan menginang, dan naskah bukan benda yang sejak awal dibuat untuk dipamerkan. Sebagian pernah mempunyai fungsi nyata dalam kehidupan seseorang atau keluarga.
Lontar Yusuf, Jejak Tradisi Literasi Masyarakat Osing
Salah satu koleksi paling menarik adalah naskah Lontar Yusuf atau Lontar Yusup.
Jadesta menyebut Mini Museum Desa menyimpan naskah Lontar Yusup kuno berupa tulisan tangan asli.
Keberadaan naskah tersebut penting karena Lontar Yusuf tidak hanya berkaitan dengan benda tertulis. Di Banyuwangi berkembang tradisi Mocoan Lontar Yusuf, yaitu pembacaan teks kisah Nabi Yusuf menggunakan gaya tembang tertentu.
Tradisi pembacaan Lontar Yusuf masih dikenal di lingkungan masyarakat Kemiren dan menjadi bagian dari upaya mempertahankan warisan budaya Osing.
Bagi pengunjung museum, koleksi ini memberi perspektif menarik tentang masyarakat masa lalu.
Kehidupan Osing tidak hanya dipenuhi kegiatan pertanian atau kesenian. Ada pula tradisi literasi, cerita keagamaan, tembang, dan proses meneruskan pengetahuan melalui pembacaan bersama.
Karena itu, jangan hanya melihat manuskrip sebagai lembaran tua. Bayangkan pula orang-orang yang dahulu berkumpul dan membacanya secara bergantian.
Kinangan dan Cerita Kebiasaan Sehari-hari
Benda yang terlihat sederhana sering justru paling menarik di museum.
Salah satunya adalah kinangan, perangkat yang berkaitan dengan kebiasaan menginang atau nyuruh pada generasi terdahulu.
TIMES Indonesia menggambarkan kinangan sebagai wadah untuk menyimpan bahan seperti daun sirih, pinang, kapur, dan tembakau yang digunakan dalam kebiasaan tersebut.
Koleksi seperti ini membantu pengunjung memahami sejarah dari sisi kehidupan sehari-hari.
Kita sering membayangkan museum harus berisi benda spektakuler seperti mahkota atau senjata kerajaan. Padahal peralatan yang digunakan orang biasa bisa memberikan gambaran yang tidak kalah penting mengenai sebuah zaman.
Dari kinangan, misalnya, kita dapat membayangkan kebiasaan bersantai, berbincang, menerima tamu, dan aktivitas orang tua pada masa ketika pola kehidupan berbeda dengan sekarang.
Jadesta juga mencatat koleksi peralatan rumah tangga seperti bokor dan kinangan sebagai bagian dari Mini Museum Desa.
Batik dan Tenun sebagai Rekaman Kehidupan Sosial
Museum Desa Kemiren juga menyimpan berbagai kain, termasuk batik dan tenun.
Menurut laporan TIMES Indonesia, terdapat koleksi tenun dengan motif Solok dan Kuwung yang berhubungan dengan berbagai tahap kehidupan masyarakat, termasuk kelahiran, pernikahan, dan kematian. Museum juga menyimpan berbagai motif batik Banyuwangi.
Menariknya, sebagian kain batik lama disimpan di dalam wadah tertutup.
Pengelola menjelaskan cara tersebut digunakan untuk membantu menjaga kondisi kain, termasuk warna dan aromanya.
Koleksi tekstil seperti ini menunjukkan bahwa kain tidak hanya berfungsi sebagai pakaian.
Dalam masyarakat tradisional, jenis kain tertentu dapat berhubungan dengan acara keluarga, ritual, identitas lokal, atau posisi seseorang dalam kegiatan budaya.
Jadesta juga mencatat keberadaan sarung BHS dari sekitar tahun 1970-an sebagai salah satu benda koleksi museum.
Melalui kain-kain tersebut, pengunjung bisa melihat perubahan selera, material, serta cara masyarakat menyimpan warisan keluarga dari masa ke masa.
Keris, Sabuk Mangir, dan Benda yang Memiliki Nilai Budaya
Koleksi lainnya yang menarik perhatian adalah keris.
Jadesta secara resmi memasukkan keris ke dalam daftar benda kuno yang tersimpan di Mini Museum Desa. Selain itu terdapat miniatur rumah adat dan barong yang membantu wisatawan memahami unsur budaya Kemiren melalui bentuk yang lebih mudah diamati.
Laporan museum pada 2022 menyebut salah satu ruang menampilkan sejumlah keris bersama benda seperti Sabuk Mangir dan kain yang berkaitan dengan penari Seblang.
Benda seperti keris sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai senjata.
Dalam berbagai budaya di Nusantara, benda pusaka juga dapat memiliki nilai keluarga, estetika, simbolik, maupun sejarah.
Karena konteks setiap koleksi bisa berbeda, penjelasan pemandu menjadi penting agar pengunjung tidak membuat kesimpulan sendiri tentang fungsi sebuah benda.
Ini juga menjadi salah satu keuntungan mengunjungi museum lokal.
Cerita benda bisa dijelaskan dalam konteks masyarakat tempat benda tersebut berasal, bukan hanya berdasarkan bentuk fisiknya.
Miniatur Rumah Adat Membantu Memahami Arsitektur Osing
Tidak semua pengunjung mudah memahami struktur rumah tradisional hanya dengan membaca penjelasan.
Karena itu, keberadaan miniatur rumah adat Osing menjadi koleksi edukatif yang menarik. Jadesta mencatat miniatur rumah adat dan barong sebagai bagian dari koleksi museum.
Miniatur memungkinkan pengunjung melihat bentuk atap, susunan bangunan, dan karakter arsitektur dari sudut yang berbeda.
Setelah melihatnya, perjalanan dapat dilanjutkan dengan berjalan di kawasan Desa Kemiren untuk membandingkan miniatur dengan rumah Osing yang masih berdiri.
Cara ini membuat museum berfungsi sebagai semacam “ruang pengantar”.
Pengunjung memperoleh pengetahuan dasar di dalam museum, kemudian melihat bagaimana unsur budaya tersebut masih hadir dalam lingkungan desa.
Dengan demikian, perjalanan wisata tidak berhenti di balik etalase kaca.
Kasur Kapuk dan Gambaran Ruang Tidur Tempo Dulu
Salah satu bagian museum pernah ditata menyerupai ruang kamar masyarakat Osing.
Di dalamnya terdapat dipan dan kasur kapuk, benda yang dahulu lazim ditemukan di rumah-rumah tradisional.
Bagi generasi sekarang yang terbiasa dengan kasur busa atau spring bed, kasur kapuk mungkin terlihat seperti benda sederhana.
Namun justru koleksi tersebut membantu menunjukkan bahwa perubahan kehidupan bisa terlihat dari barang paling dekat dengan manusia: tempat tidur.
Cara sebuah keluarga tidur, menyimpan pakaian, menerima tamu, menyiapkan makanan, atau menggunakan peralatan rumah tangga semuanya berubah mengikuti perkembangan teknologi dan ekonomi.
Museum membuat perubahan tersebut lebih mudah dipahami karena pengunjung tidak hanya membaca teks.
Kita bisa melihat benda nyata yang pernah menjadi bagian normal dari kehidupan generasi sebelumnya.
Teknologi Barcode Membuat Museum Lebih Mudah Dipelajari
Menariknya, museum yang mengangkat kehidupan masa lalu juga mencoba menggunakan teknologi modern.
Menurut pengelola, koleksi museum telah dilengkapi barcode yang dapat dipindai pengunjung untuk memperoleh informasi mengenai benda tertentu. Sistem ini membantu ketika pemandu tidak sedang berada di lokasi.
Konsep seperti ini penting untuk museum desa.
Koleksi lokal sering mempunyai cerita yang sangat spesifik dan sulit dipahami hanya berdasarkan tampilan fisiknya. Tanpa informasi, wisatawan mungkin hanya melihat sebuah wadah tua, kain, atau senjata tanpa mengetahui hubungan benda tersebut dengan masyarakat.
Digitalisasi memberi peluang untuk menyimpan cerita dalam bentuk yang lebih mudah diakses.
Bagi generasi muda, penggunaan teknologi juga dapat membuat museum terasa lebih relevan dan interaktif.
Pada akhirnya, pelestarian budaya tidak harus menolak teknologi. Teknologi justru dapat membantu sebuah cerita lama menjangkau audiens baru.
Museum sebagai Wisata Edukasi Budaya
Jadesta secara khusus menyebut Mini Museum Desa dibuat untuk menyasar wisata edukasi, termasuk kunjungan yang berkaitan dengan aktivitas pembelajaran.
Potensinya memang besar.
Anak sekolah bisa belajar mengenai benda rumah tangga tradisional, mahasiswa dapat mengamati kebudayaan material masyarakat Osing, sementara wisatawan umum mendapat konteks sebelum menjelajahi desa.
Museum Desa juga menawarkan pengalaman nostalgia terhadap Kemiren tempo dulu. Dalam profil atraksi resmi, pengunjung disebut dapat melihat ornamen Osing dan peninggalan masyarakat seperti batik, gelas, serta berbagai benda milik warga Kemiren.
Pemandu lokal dan penyewaan pakaian adat juga tercantum sebagai fasilitas yang dapat tersedia.
Keberadaan museum semakin masuk akal karena Kemiren sendiri merupakan destinasi budaya yang memiliki banyak lapisan.
Setelah museum, wisatawan bisa meneruskan perjalanan menuju kawasan rumah adat, mengenal kopi tradisional, mencicipi pecel pitik, atau mempelajari berbagai kesenian Osing.
Museum yang Tumbuh dari Masyarakat
Salah satu nilai penting Museum Desa Kemiren adalah keterlibatan masyarakat dalam pembentukannya.
Pengelola menyebut koleksinya berasal dari warga Kemiren dan museum dikembangkan melalui kolaborasi keluarga pengelola, pemerintah desa, Pokdarwis, lembaga adat, serta masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga mendokumentasikan kunjungan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ke museum desa pada 2022 serta menyebut pengelolaannya dilakukan secara mandiri oleh keluarga lokal.
Model ini menarik karena masyarakat menjadi subjek pelestarian budayanya sendiri.
Mereka tidak hanya menjadi sumber benda koleksi, tetapi ikut menentukan cerita apa yang perlu disimpan dan diperkenalkan kepada pengunjung.
Museum kemudian mempunyai fungsi ganda.
Di satu sisi ia menjaga memori tentang masa lalu. Di sisi lain, keberadaannya menambah daya tarik wisata Kemiren dan berpotensi mendukung aktivitas ekonomi desa.
Tips Berkunjung ke Museum Desa Kemiren
Museum ini paling menarik jika tidak dikunjungi dengan terburu-buru.
Luangkan waktu memperhatikan benda-benda kecil seperti kinangan, kain, peralatan rumah, atau miniatur. Koleksi semacam itu sering memiliki cerita kehidupan sehari-hari yang justru lebih mudah membuat kita memahami masyarakat Osing.
Jika ada pemandu lokal, manfaatkan kesempatan untuk bertanya.
Tanyakan siapa pemilik awal benda, bagaimana benda tersebut digunakan, atau apakah kebiasaannya masih dilakukan masyarakat sekarang. Jika tersedia informasi digital pada koleksi, gunakan pula fasilitas barcode yang disediakan.
Setelah selesai, jangan langsung meninggalkan Kemiren.
Berjalanlah di kawasan rumah adat atau mencari kuliner lokal. Museum akan terasa lebih bermakna ketika benda-benda yang baru saja dilihat bisa dihubungkan dengan kebudayaan yang masih hidup di luar bangunan.
Lontar Yusuf memperlihatkan tradisi literasi, batik dan tenun merekam kehidupan sosial, kinangan menggambarkan kebiasaan sehari-hari, sedangkan keris, kasur kapuk, miniatur rumah, dan berbagai peralatan membantu membayangkan suasana Kemiren tempo dulu.
Nilai terbesarnya justru terletak pada hubungan koleksi dengan masyarakat desa. Banyak benda berasal dari warga dan museum dikembangkan sebagai bagian dari wisata budaya berbasis komunitas.
Kalau berkunjung ke Desa Kemiren, sempatkan masuk ke museum sebelum menjelajahi kampung lebih jauh.
Setelah memahami benda-benda di dalamnya, rumah adat, tradisi, pakaian, dan kehidupan masyarakat yang ditemui di luar akan terasa memiliki cerita yang jauh lebih dalam.
FAQ
1. Di mana Museum Desa Kemiren berada?
Museum berada di Desa Wisata Adat Osing Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
2. Apa saja koleksi Museum Desa Kemiren?
Koleksinya antara lain Lontar Yusup tulisan tangan, sarung lama, bokor, kinangan, keris, batik, miniatur rumah adat, dan miniatur barong.
3. Kapan Museum Desa Kemiren mulai dibuka?
Menurut keterangan pengelolanya yang dipublikasikan pada 2022, museum diresmikan pada Mei 2022.
4. Apa koleksi paling menarik di Museum Kemiren?
Salah satu yang paling penting adalah naskah Lontar Yusuf, karena berkaitan dengan tradisi Mocoan Lontar Yusuf yang masih dikenal dalam kebudayaan Osing Banyuwangi.
5. Apakah Museum Desa Kemiren cocok untuk wisata edukasi?
Ya. Jadesta secara khusus menempatkan Mini Museum Desa sebagai atraksi wisata edukasi untuk mengenalkan peninggalan dan kehidupan budaya masyarakat Osing.