Kopi Kemiren dan Budaya Ngopi Masyarakat Osing Banyuwangi

Bagi sebagian orang, kopi adalah teman bekerja atau minuman untuk mengusir kantuk. Namun di Desa Kemiren, Banyuwangi, secangkir kopi bisa memiliki arti yang lebih luas.

Kopi menjadi suguhan untuk tamu, pembuka percakapan, penghubung antartetangga, sekaligus bagian dari cara masyarakat Osing menunjukkan keramahan. Inilah yang membuat Kopi Kemiren dan budaya ngopi masyarakat Osing menarik untuk dikenali.

Wisatawan yang datang ke Kemiren bahkan dapat belajar menyangrai, menumbuk, menyaring, hingga menyeduh kopi menggunakan cara tradisional. Kegiatan tersebut kini menjadi bagian dari pengalaman wisata budaya desa.

Budaya tersebut kemudian mendapat panggung lebih besar melalui Festival Ngopi Sepuluh Ewu, ketika teras-teras rumah warga berubah menjadi ruang menerima tamu dan ribuan cangkir kopi disuguhkan kepada siapa saja yang datang.

Jadi, ketika berbicara tentang kopi di Kemiren, yang kita bicarakan sebenarnya bukan hanya rasa, melainkan juga hubungan sosial dan identitas budaya.

Kopi dalam Kehidupan Masyarakat Kemiren

Desa Kemiren berada di Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, dan dikenal sebagai salah satu kawasan yang kuat mempertahankan budaya masyarakat Osing.

Dalam profil Desa Wisata Adat Osing Kemiren, kopi bahkan ditempatkan sebagai salah satu produk unggulan desa bersama batik khas Banyuwangi dan pecel pitik.

Kedekatan masyarakat dengan kopi juga terlihat dari aktivitas sehari-hari dan wisata budaya.

Indonesia Travel mencatat bahwa pengunjung Kemiren dapat mencoba proses pembuatan kopi mulai dari menumbuk, menyangrai, menyaring biji, hingga menyajikannya. Artinya, kopi tidak hanya hadir dalam bentuk produk jadi yang tinggal diminum.

Ada pengetahuan yang menyertai setiap proses tersebut.

Cara mengolah kopi diwariskan dan kemudian menjadi bagian dari pengalaman yang diperkenalkan kepada wisatawan. Inilah yang membuat secangkir kopi khas Kemiren memiliki cerita lebih panjang dibandingkan hanya membeli kopi kemasan dari rak toko.

Tradisi Menyangrai Kopi Secara Tradisional

Salah satu pengalaman menarik di Kemiren adalah melihat proses menyangrai kopi secara tradisional.

Dalam paket wisata pengolahan Kopi Kemiren Jaran Goyang yang tercantum di Jadesta Kementerian Pariwisata, wisatawan diajak mengikuti rangkaian sangrai, tumbuk, saring, hingga penyeduhan menggunakan cangkir antik warisan keluarga.

Teknik tradisionalnya menggunakan peralatan yang relatif sederhana.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pada Juli 2026 mendokumentasikan proses menyangrai menggunakan tungku serta penggorengan dari tanah liat saat Menteri Pariwisata mengunjungi Kemiren.

Tradisi sangrai tersebut bukan sesuatu yang baru dipromosikan belakangan.

Pada 2011, Banyuwangi bahkan pernah menggelar Festival Sangrai Kopi Tradisional di Kemiren dengan melibatkan 240 peserta dari 24 kecamatan sebagai bagian dari upaya melestarikan kebiasaan masyarakat sekaligus mempromosikan kopi Banyuwangi.

Dari sini terlihat bahwa proses membuat kopi sendiri mempunyai posisi penting dalam budaya lokal.

Bukan hanya hasil akhirnya yang dihargai, tetapi juga pengetahuan dan keterampilan di balik secangkir kopi.

Budaya Ngopi dan Cara Masyarakat Osing Menerima Tamu

Hal paling menarik dari budaya ngopi masyarakat Osing mungkin justru bukan kopinya.

Yang lebih penting adalah apa yang terjadi ketika kopi diletakkan di depan seorang tamu.

Masyarakat Kemiren mengenal filosofi suguh, gupuh, lungguh dalam menerima orang yang datang.

Ketua Adat Osing Kemiren menjelaskan suguh sebagai memberikan hidangan kepada tamu, gupuh sebagai sikap antusias dalam menyambutnya, sementara lungguh berarti menyediakan tempat yang baik agar tamu dapat duduk dengan nyaman.

Dalam praktik sehari-hari, kopi sangat cocok menjadi bagian dari filosofi tersebut.

Secangkir minuman dapat menjadi alasan sederhana untuk meminta seseorang duduk lebih lama. Dari sana percakapan dimulai, kabar dipertukarkan, dan hubungan menjadi lebih dekat.

Itulah sebabnya kebiasaan menyuguhkan kopi di Kemiren tidak hanya berbicara tentang konsumsi.

Kopi berfungsi sebagai media sosial dalam pengertian paling tradisional: duduk berhadapan dan berbicara langsung dengan orang lain.

Dari Kebiasaan Ngopi ke Festival Ngopi Sepuluh Ewu

Budaya menerima tamu dengan kopi kemudian berkembang menjadi salah satu festival paling terkenal di Desa Kemiren, yaitu Ngopi Sepuluh Ewu.

Festival ini pertama kali digelar pada 2014 dan kemudian menjadi agenda tahunan.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mencatat bahwa acara tersebut membuat rumah-rumah di sepanjang jalan utama Kemiren berubah menjadi tempat ngopi sementara, lengkap dengan teras dan halaman yang digunakan untuk menerima pengunjung.

Kata sewu berarti seribu, sedangkan nama Ngopi Sepuluh Ewu secara sederhana menggambarkan suguhan kopi dalam jumlah sangat banyak.

Pada penyelenggaraan 2019, misalnya, warga menyiapkan sekitar 10.000 cangkir kopi dengan sekitar 350 kilogram bubuk kopi. Jenis yang disajikan mencakup arabika, robusta, dan racikan lainnya.

Konsepnya sederhana tetapi sangat menarik.

Pengunjung dapat duduk di halaman rumah warga, menikmati kopi, mencicipi makanan lokal, dan berbincang dengan pemilik rumah. Tidak ada kesan bahwa seluruh interaksi harus berlangsung di restoran atau kedai komersial.

Justru rumah warga menjadi panggung utama.

“Sekali Seduh, Kita Bersaudara”

Festival Ngopi Sepuluh Ewu mempunyai filosofi yang sangat kuat tentang persaudaraan.

Dalam penyelenggaraannya dikenal ungkapan “Sak Corot Dadi Sakduluran”, yang secara bebas dimaknai sebagai sekali seduh, kita menjadi saudara.

Filosofi tersebut digunakan untuk menggambarkan bagaimana kegiatan minum kopi dapat mempertemukan orang yang sebelumnya tidak saling mengenal.

Bayangkan datang sebagai wisatawan, lalu duduk di halaman rumah seseorang yang belum pernah Anda temui.

Tuan rumah memberikan tempat, menyajikan kopi dan makanan ringan, kemudian percakapan mulai berjalan. Situasi seperti ini mengubah hubungan antara “warga” dan “wisatawan”.

Untuk beberapa saat, keduanya duduk di ruang yang sama sebagai tamu dan tuan rumah.

Di sinilah budaya ngopi Kemiren menunjukkan kekuatannya. Kopi menjadi alasan untuk membuka pintu rumah sekaligus membuka percakapan.

Sebuah festival akhirnya tidak hanya menghasilkan keramaian, tetapi juga menghadirkan pengalaman sosial yang sangat personal.

Cangkir Kopi sebagai Bagian dari Warisan Keluarga

Ada detail kecil dalam Ngopi Sepuluh Ewu yang mudah terlewat: cangkirnya.

Pada Festival Ngopi Sepuluh Ewu 2024, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mencatat bahwa warga menyajikan kopi menggunakan cangkir-cangkir yang diwariskan secara turun-temurun dalam keluarga.

Keberadaan cangkir lama membuat pengalaman ngopi terasa berbeda.

Benda sederhana yang biasanya dianggap hanya sebagai alat minum ternyata dapat membawa ingatan keluarga.

Cangkir tersebut pernah digunakan oleh orang tua atau generasi sebelumnya, kemudian kembali dikeluarkan ketika rumah menerima banyak tamu.

Konsep serupa juga muncul dalam paket wisata pengolahan kopi Kemiren yang menyebut penggunaan cangkir antik warisan keluarga ketika menyajikan kopi.

Dengan begitu, budaya kopi di Kemiren mempunyai lapisan yang menarik.

Bukan hanya biji kopinya yang penting. Peralatan, cara memasak, cara menyajikan, dan hubungan antargenerasi ikut membentuk pengalaman tersebut.

Kopi Kemiren sebagai Produk Ekonomi Kreatif

Perkembangan desa wisata membuat kopi juga mempunyai nilai ekonomi yang semakin besar.

Jadesta mencatat Kopi Kemiren Jaran Goyang sebagai salah satu produk unggulan Desa Wisata Adat Osing Kemiren. Produk tersebut dikembangkan bersama berbagai kegiatan ekonomi kreatif lain yang berbasis masyarakat.

Festival juga memberi ruang bagi kopi dari wilayah Banyuwangi yang lebih luas.

Pada Ngopi Sepuluh Ewu 2025, panitia menyiapkan satu kuintal kopi robusta hasil perkebunan lokal Banyuwangi. Kopi tersebut dibeli dari pelaku UMKM, kemudian dibagikan kepada warga di sepanjang rute festival untuk disajikan kepada tamu.

Model seperti ini menunjukkan bagaimana budaya dan ekonomi dapat bertemu.

Tradisi ngopi menarik pengunjung, kunjungan membuka pasar bagi produk lokal, sementara produk kopi memberi alasan bagi wisatawan untuk membawa pulang bagian dari pengalaman mereka.

Tantangannya tentu menjaga agar unsur ekonomi tidak menghilangkan karakter sosial dari budaya ngopi itu sendiri.

Karena kekuatan Kemiren bukan sekadar menjual kopi, melainkan cara masyarakat menyajikan kopi dan membangun hubungan melalui minuman tersebut.

Ngopi sebagai Atraksi Wisata Budaya

Saat ini wisata kopi menjadi salah satu cara wisatawan mengenal Kemiren dengan lebih dekat.

Pengunjung dapat mengikuti pengalaman menyangrai dan menyeduh kopi, menikmati kuliner, melihat rumah tradisional, menyaksikan kesenian Osing, atau datang saat Ngopi Sepuluh Ewu berlangsung.

Indonesia Travel juga memasukkan aktivitas membuat dan menikmati kopi sebagai salah satu pengalaman yang bisa dilakukan saat mengunjungi Desa Wisata Osing Kemiren.

Dari perspektif wisata, aktivitas seperti ini mempunyai keunggulan karena bersifat partisipatif.

Wisatawan tidak hanya berdiri dan melihat sebuah pertunjukan. Mereka bisa ikut memegang alat sangrai, mencium perubahan aroma biji kopi, menumbuknya, menyeduh, lalu meminum hasilnya.

Pengalaman tersebut membuat cerita mengenai budaya Osing lebih mudah diingat.

Daripada hanya mendengar bahwa “masyarakat Kemiren memiliki budaya kopi”, pengunjung benar-benar mengalami prosesnya.

Festival Besar, tetapi Rumah Warga Tetap Menjadi Pusatnya

Salah satu hal yang membuat Ngopi Sepuluh Ewu unik adalah skalanya yang besar tanpa sepenuhnya kehilangan suasana kampung.

Pada penyelenggaraan 2023, sajian kopi membentang di halaman rumah warga sepanjang sekitar dua kilometer di jalan utama Kemiren.

Ribuan orang dapat datang, tetapi konsep dasarnya tetap sederhana: tamu duduk dan tuan rumah menyuguhkan kopi.

Pada 2025, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kembali menegaskan bahwa Ngopi Sepuluh Ewu merupakan representasi keramahan masyarakat Osing, bukan semata-mata kegiatan menyajikan bercangkir-cangkir kopi.

Inilah yang membedakannya dari festival kopi biasa.

Fokusnya bukan kompetisi barista atau pameran produk semata. Hal paling menonjol justru interaksi antara manusia.

Festival tersebut menjadikan seluruh desa seperti ruang tamu raksasa.

Makna Budaya Ngopi bagi Masyarakat Osing

Pada akhirnya, budaya ngopi di Kemiren berbicara tentang tiga hal: keramahan, kebersamaan, dan identitas.

Keramahan terlihat dari cara masyarakat menerima tamu melalui prinsip suguh, gupuh, lungguh. Kebersamaan tumbuh ketika kopi mempertemukan keluarga, tetangga, dan pengunjung dalam percakapan yang sama.

Sementara identitas terlihat dari cara tradisi tersebut terus dipertahankan dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

Kopi bahkan telah menjadi bagian dari citra Desa Kemiren sebagai destinasi budaya Osing.

Dalam perkembangannya, desa ini tidak hanya mempertahankan ritual dan kesenian, tetapi juga menjadikan pengalaman keseharian seperti menyangrai dan menyajikan kopi sebagai bagian dari wisata budaya.

Jadi, keistimewaan Kopi Kemiren bukan semata-mata soal tingkat keasaman, aroma, atau metode seduh.

Nilai terbesarnya mungkin justru terletak pada orang-orang yang duduk mengelilingi cangkir tersebut.

Kopi Kemiren dan budaya ngopi masyarakat Osing menunjukkan bahwa secangkir kopi dapat membawa makna yang jauh lebih besar daripada sekadar minuman.

Dari proses menyangrai dengan cara tradisional hingga filosofi suguh, gupuh, lungguh, kopi menjadi bagian dari keramahan sekaligus kehidupan sosial masyarakat Kemiren.

Tradisi tersebut semakin dikenal melalui Festival Ngopi Sepuluh Ewu yang digelar sejak 2014, ketika rumah-rumah warga berubah menjadi ruang pertemuan bagi ribuan pengunjung.

Jika berkunjung ke Desa Kemiren, jangan hanya mencari secangkir kopi untuk diminum cepat. Cobalah mengikuti proses pengolahannya, duduk bersama warga, dan menikmati percakapan yang muncul setelah kopi disajikan.

Di situlah budaya ngopi Osing benar-benar terasa: sederhana, hangat, dan penuh persaudaraan.

FAQ

1. Apa itu Kopi Kemiren?

Kopi Kemiren merujuk pada produk dan tradisi pengolahan kopi yang berkembang di Desa Adat Osing Kemiren, Banyuwangi. Kopi Kemiren Jaran Goyang termasuk salah satu produk unggulan desa wisata tersebut.

2. Apa itu Festival Ngopi Sepuluh Ewu?

Ngopi Sepuluh Ewu adalah festival minum kopi bersama di Desa Kemiren. Rumah dan halaman warga digunakan untuk menyuguhkan ribuan cangkir kopi kepada pengunjung. Festival ini mulai digelar pada 2014.

3. Apa arti suguh, gupuh, lungguh?

Suguh berarti memberikan hidangan, gupuh menggambarkan antusiasme dalam menerima tamu, sedangkan lungguh berarti menyediakan tempat yang baik bagi tamu untuk duduk.

4. Apakah wisatawan bisa belajar membuat kopi di Kemiren?

Ya. Wisatawan dapat mengikuti pengalaman pengolahan kopi secara tradisional, mulai dari menyangrai, menumbuk, menyaring, hingga menyeduh kopi.

5. Apa makna “Sak Corot Dadi Sakduluran”?

Ungkapan tersebut digunakan dalam budaya Ngopi Sepuluh Ewu dan secara bebas bermakna “sekali seduh, kita bersaudara”, menggambarkan kopi sebagai media mempererat hubungan antarmanusia.