Tari Gandrung Banyuwangi: Sejarah, Makna, dan Kedudukannya dalam Budaya

Ada banyak cara mengenali Banyuwangi. Ada Kawah Ijen dengan fenomena api birunya, pantai-pantai di ujung timur Jawa, sampai tradisi masyarakat Osing yang masih hidup.

Namun ketika berbicara tentang seni pertunjukan, satu nama hampir selalu muncul: Tari Gandrung Banyuwangi.

Gandrung bukan sekadar tarian yang dipentaskan untuk menghibur penonton. Perjalanannya melewati berbagai perubahan zaman, dari tradisi masyarakat agraris hingga menjadi kesenian rakyat dan akhirnya salah satu ikon budaya Banyuwangi.

Pemerintah Indonesia bahkan telah menetapkan Gandrung Banyuwangi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dalam domain seni pertunjukan melalui SK Nomor 238/M/2013.

Kini kita bisa melihat Gandrung dalam acara masyarakat, pertunjukan seni, kegiatan pariwisata, hingga festival berskala besar seperti Gandrung Sewu.

Tetapi apa yang membuat tarian ini begitu penting? Untuk memahaminya, kita perlu melihat sejarah, makna, hingga kedudukannya dalam kehidupan budaya masyarakat Banyuwangi.

Apa Itu Tari Gandrung Banyuwangi?

Tari Gandrung adalah kesenian tradisional yang berkembang di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, dan memiliki hubungan kuat dengan budaya masyarakat Osing.

Dalam perkembangannya, Gandrung memadukan unsur tari, vokal atau tembang, musik tradisional, serta interaksi antara penari dan penonton.

Kata gandrung sendiri umumnya dimaknai sebagai rasa terpikat, cinta, atau kekaguman yang mendalam.

Dalam penjelasan mengenai Warisan Budaya Takbenda, kesenian ini juga dikaitkan dengan ungkapan rasa syukur masyarakat agraris setelah panen dan penghormatan terhadap kesuburan.

Namun Gandrung yang dikenal sekarang tidak terbentuk dalam satu malam. Bentuk pertunjukannya berkembang melalui proses panjang dan mengalami perubahan sesuai konteks sosial masyarakat.

Karena itu, melihat Gandrung hanya sebagai “tarian penyambutan khas Banyuwangi” sebenarnya terlalu sederhana. Di balik gerakan yang indah terdapat sejarah komunitas, perubahan sosial, tradisi lisan, dan ekspresi identitas daerah.

Jejak Sejarah Tari Gandrung

Sumber mengenai sejarah Gandrung menunjukkan bahwa bentuk kesenian ini telah mengalami sejumlah fase penting.

Dalam sejarah pertunjukan Banyuwangi dikenal istilah Gandrung Lanang, yaitu Gandrung yang dibawakan laki-laki.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam dokumentasi Festival Gandrung Sewu juga menyebut Gandrung Marsan sebagai bagian dari fase Gandrung laki-laki sebelum kesenian tersebut kemudian lebih banyak dibawakan oleh perempuan.

Salah satu tokoh yang sangat penting dalam perubahan tersebut adalah Semi, yang dalam berbagai dokumentasi disebut sebagai pelopor Gandrung perempuan.

Buku Gandrung Banyuwangi karya B. Soelarto dan S. Ilmi yang tersedia dalam koleksi digital Banyuwangi menyebut pembaruan Gandrung yang dipelopori Mak Midah dari Cungking dengan Semi sebagai penari Gandrung perempuan pertama.

Saudara-saudara Semi kemudian juga ikut menjadi penari Gandrung.

Perubahan dari Gandrung laki-laki menuju dominasi penari perempuan memperlihatkan bahwa tradisi bukan sesuatu yang benar-benar statis.

Gandrung tetap mempertahankan identitasnya, tetapi bentuk penyajiannya terus menyesuaikan diri dengan perubahan masyarakat.

Dari Tradisi Agraris Menjadi Kesenian Rakyat

Salah satu cerita mengenai awal Gandrung berkaitan erat dengan kehidupan pertanian.

Data Warisan Budaya Takbenda Kementerian Pendidikan menyebut awal Gandrung sebagai ungkapan rasa syukur kepada Dewi Sri, figur yang dalam tradisi masyarakat agraris dihubungkan dengan padi dan kesuburan. Pertunjukan tersebut dikaitkan dengan masa setelah panen.

Hubungan ini cukup masuk akal jika melihat kehidupan masyarakat Banyuwangi pada masa lalu yang sangat dekat dengan pertanian.

Panen bukan hanya persoalan ekonomi. Hasil sawah menentukan kehidupan keluarga dan komunitas. Tidak mengherankan jika rasa syukur kemudian diwujudkan melalui ritual, musik, nyanyian, dan tarian.

Seiring perjalanan waktu, fungsi Gandrung menjadi semakin luas.

Kesenian tersebut berkembang sebagai hiburan masyarakat dan sering dipentaskan dalam berbagai kesempatan. Dari sinilah Gandrung perlahan bergerak dari lingkungan tradisi agraris menjadi salah satu seni pertunjukan rakyat paling dikenal di Banyuwangi.

Struktur Pertunjukan Gandrung yang Penuh Makna

Pertunjukan Gandrung tradisional bukan sekadar penari masuk ke panggung, menari beberapa menit, lalu selesai.

Dalam bentuk pertunjukannya dikenal beberapa bagian penting. Dokumentasi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyebut struktur Gandrung terdiri atas Jejer Gandrung, Paju Gandrung, dan Seblang Subuh.

1. Jejer Gandrung

Jejer merupakan bagian awal pertunjukan. Pada bagian ini, penari memperkenalkan keindahan gerak Gandrung dan membangun suasana sebelum memasuki interaksi yang lebih intens dengan penonton.

Salah satu tembang yang berkaitan erat dengan bagian Jejer adalah Podo Nonton. Pemerintah Banyuwangi pernah mengangkat tembang tersebut dalam Gandrung Sewu karena kandungan pesan mengenai perjuangan masyarakat Blambangan.

2. Paju Gandrung

Bagian Paju membuat Gandrung berbeda dari banyak pertunjukan tari yang hanya memiliki komunikasi satu arah.

Dalam bagian ini terdapat interaksi antara penari Gandrung dengan paju, yaitu penonton pria yang ikut menari. Tradisi tersebut juga ditemukan dalam pertunjukan Gandrung yang ditanggap ketika masyarakat mengadakan hajatan.

Artinya, batas antara pemain dan penonton menjadi lebih cair. Masyarakat bukan sekadar menyaksikan kesenian, tetapi ikut menjadi bagian dari suasana pertunjukan.

3. Seblang Subuh

Seblang Subuh menjadi bagian penutup dalam rangkaian Gandrung.

Dalam interpretasi budaya yang digunakan Pemerintah Banyuwangi pada Gandrung Sewu 2014, bagian ini dikaitkan dengan refleksi, kesadaran diri, dan permohonan ampun kepada Tuhan.

Dengan struktur tersebut, Gandrung memiliki perjalanan suasana yang cukup kompleks: dari pembukaan, interaksi sosial, hingga penutupan yang lebih reflektif.

Gandrung dan Identitas Masyarakat Osing

Sulit membahas budaya Banyuwangi tanpa menyinggung masyarakat Osing.

Osing merupakan salah satu komunitas budaya utama yang membentuk identitas Banyuwangi.

Di Desa Kemiren, misalnya, kesenian Gandrung ditempatkan bersama barong, angklung, tradisi selamatan, Mocoan Lontar Yusuf, serta berbagai pengetahuan tradisional sebagai bagian dari pengalaman budaya masyarakat setempat.

Hal ini menunjukkan bahwa Gandrung tidak berdiri sendirian.

Ia hidup dalam sebuah ekosistem budaya yang juga mencakup bahasa Osing, musik tradisional, kuliner, ritual, cerita rakyat, hingga kehidupan sosial masyarakat.

Karena itu, posisi Gandrung dapat dipahami sebagai salah satu “wajah” paling mudah dikenali dari kebudayaan Banyuwangi. Ketika Gandrung dipentaskan di luar daerah, yang dibawa bukan hanya koreografi, melainkan juga representasi identitas daerah asalnya.

Mengapa Gandrung Menjadi Ikon Banyuwangi?

Tidak semua tarian daerah akhirnya memiliki posisi sebagai simbol sebuah wilayah. Gandrung termasuk yang berhasil mendapatkan posisi tersebut.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi secara konsisten menggunakan Gandrung dalam berbagai kegiatan kebudayaan.

Pada 2015, pemerintah daerah bahkan menjelaskan bahwa Gandrung digunakan sebagai tarian pembuka dalam berbagai acara sebagai bagian dari upaya memperkenalkan dan melestarikannya.

Pengakuan nasional kemudian memperkuat kedudukannya. Pada 2013, Gandrung Banyuwangi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Di tingkat daerah, Gandrung juga menjadi simbol yang mudah ditemukan dalam festival, promosi wisata, sanggar seni, hingga pendidikan budaya.

Pada 2025, misalnya, kompetisi “Gelar Gandrung dari Masa ke Masa” di Banyuwangi diikuti ribuan peserta dari Jawa dan Bali. Pemerintah daerah menyebut kegiatan tersebut sebagai bagian dari regenerasi sekaligus upaya menjaga Gandrung sebagai identitas budaya Banyuwangi.

Gandrung Sewu dan Transformasi Menjadi Atraksi Budaya Modern

Salah satu contoh paling jelas perubahan cara Gandrung ditampilkan adalah Festival Gandrung Sewu.

Festival ini digelar sejak 2012 dan menghadirkan tari Gandrung dalam format kolosal dengan melibatkan ribuan penari. Pertunjukan berlangsung di kawasan Pantai Boom dengan Selat Bali sebagai latar alaminya.

Formatnya jelas berbeda dari pertunjukan Gandrung tradisional dalam hajatan.

Namun perubahan skala tersebut membuat Gandrung dapat dinikmati masyarakat yang jauh lebih luas. Festival juga menjadi ruang bagi penari muda untuk belajar sekaligus tampil membawa kesenian daerahnya.

Di sinilah kita bisa melihat hubungan antara pelestarian budaya dan pariwisata Banyuwangi.

Tradisi tidak hanya disimpan untuk dikenang. Gandrung diolah menjadi pengalaman budaya yang dapat menarik wisatawan sekaligus memperkuat rasa memiliki masyarakat lokal.

Tantangannya adalah memastikan bentuk modern tidak menghapus pengetahuan tentang versi tradisional dan sejarah yang melatarbelakanginya.

Regenerasi Penari Gandrung Sangat Penting

Sebuah kesenian hanya akan hidup jika ada orang yang terus mempelajarinya.

Karena alasan inilah regenerasi memiliki posisi penting dalam pelestarian Tari Gandrung.

Pemerintah Banyuwangi pernah menjalankan program Maestro Mengajar, yang mempertemukan seniman Gandrung senior dengan generasi muda untuk mempelajari gerakan sekaligus filosofi tari.

Model seperti ini penting karena belajar Gandrung sebenarnya tidak cukup dengan meniru koreografi.

Penari muda juga perlu memahami tembang, konteks pertunjukan, sejarah, etika saat tampil, serta makna kebudayaan di balik setiap bagian.

Sanggar-sanggar seni, sekolah, seniman senior, keluarga, pemerintah, dan komunitas lokal akhirnya memiliki peranan yang saling melengkapi.

Jika proses regenerasi berhenti, Gandrung mungkin masih bisa ditonton melalui rekaman. Namun ia akan kehilangan sesuatu yang paling penting: keberlanjutan sebagai tradisi hidup.

Kedudukan Tari Gandrung dalam Budaya Banyuwangi

Jadi, sebenarnya di mana posisi Tari Gandrung dalam budaya Banyuwangi?

Jawabannya jauh lebih luas daripada sekadar “tarian daerah”.

Pertama, Gandrung merupakan warisan seni pertunjukan yang menyimpan perjalanan sejarah masyarakat. Kedua, ia menjadi salah satu bentuk ekspresi budaya yang memiliki hubungan kuat dengan masyarakat Osing.

Ketiga, Gandrung berfungsi sebagai simbol identitas Banyuwangi. Kesenian ini digunakan untuk memperkenalkan daerah dalam berbagai pertunjukan dan agenda kebudayaan.

Keempat, Gandrung juga mempunyai kedudukan penting dalam pariwisata. Festival Gandrung Sewu menunjukkan bagaimana warisan tradisional dapat dikembangkan menjadi atraksi besar tanpa sepenuhnya melepaskan cerita budaya yang menjadi sumbernya.

Dan yang tidak kalah penting, Gandrung menjadi ruang pertemuan antargenerasi. Seniman senior meneruskan pengetahuan kepada penari muda, sementara generasi baru membawa kesenian tersebut ke panggung yang semakin beragam.

Itulah sebabnya Gandrung terasa begitu melekat dengan Banyuwangi.

Tari Gandrung Banyuwangi bukan hanya pertunjukan dengan gerakan indah dan iringan musik tradisional.

Di dalamnya terdapat perjalanan panjang masyarakat, jejak budaya agraris, perkembangan Gandrung Lanang dan Gandrung perempuan, tradisi pertunjukan rakyat, hingga identitas masyarakat Osing.

Kedudukannya semakin kuat setelah Gandrung ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2013 dan terus diwariskan melalui sanggar, pendidikan, festival, serta pertunjukan masyarakat.

Kalau berkunjung ke Banyuwangi, cobalah melihat Gandrung bukan hanya sebagai atraksi wisata. Perhatikan tembangnya, interaksi penari, dan cerita di balik pertunjukannya.

Dari sana kita bisa memahami mengapa Gandrung telah menjadi salah satu simbol paling kuat dari kebudayaan Banyuwangi.

FAQ

1. Dari mana Tari Gandrung berasal?

Tari Gandrung berasal dan berkembang di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, serta memiliki hubungan erat dengan budaya masyarakat Osing.

2. Apa makna Tari Gandrung?

Gandrung kerap dikaitkan dengan rasa terpikat atau cinta sekaligus ungkapan syukur masyarakat. Dalam sejarahnya, kesenian ini juga memiliki hubungan dengan tradisi agraris dan masa panen.

3. Siapa penari Gandrung perempuan pertama?

Dalam dokumentasi sejarah Gandrung Banyuwangi, Semi dikenal sebagai pelopor atau penari Gandrung perempuan pertama setelah periode Gandrung yang sebelumnya dibawakan laki-laki.

4. Apa saja bagian dalam pertunjukan Gandrung?

Pertunjukan Gandrung dikenal memiliki tiga segmen utama, yaitu Jejer Gandrung, Paju Gandrung, dan Seblang Subuh.

5. Apakah Tari Gandrung termasuk Warisan Budaya Takbenda?

Ya. Gandrung Banyuwangi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2013 dalam kategori seni pertunjukan melalui SK Nomor 238/M/2013.