Mengenal Tradisi Ngopi Sepuluh Ewu di Kemiren, Banyuwangi

Bayangkan datang ke sebuah desa pada malam hari, lalu hampir setiap rumah di sepanjang jalan membuka terasnya untuk siapa saja. Di depan rumah tersedia meja kecil, tikar, jajanan tradisional, dan cangkir-cangkir berisi kopi panas.

Anda bahkan tidak harus mengenal pemilik rumah untuk dipersilakan duduk dan menikmati kopi bersama. Suasana itulah yang menjadi daya tarik Tradisi Ngopi Sepuluh Ewu di Kemiren, Desa Adat Osing yang berada di Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

Festival ini lahir dari kebiasaan masyarakat Kemiren menyuguhkan kopi kepada tamu dan kemudian berkembang menjadi perayaan budaya berskala besar.

Dalam pelaksanaannya, jalan utama desa berubah menjadi ruang silaturahmi dengan ribuan cangkir kopi yang disediakan warga.

Menariknya, Ngopi Sepuluh Ewu bukan sekadar festival kopi. Di balik setiap seduhan terdapat filosofi keramahan, persaudaraan, gotong royong, serta cara masyarakat Osing memandang seorang tamu.

Apa Itu Tradisi Ngopi Sepuluh Ewu?

Ngopi Sepuluh Ewu merupakan festival budaya masyarakat Osing di Desa Kemiren, Kabupaten Banyuwangi. Dalam bahasa lokal, sepuluh ewu berarti sepuluh ribu, merujuk pada gambaran ribuan cangkir kopi yang disajikan kepada pengunjung.

Pada penyelenggaraan tertentu, pemerintah daerah memang menargetkan sekitar 10.000 cangkir kopi sebagai bagian dari festival.

Yang membuatnya berbeda dari festival kopi biasa adalah tempat penyelenggaraannya.

Bukan gedung pameran atau pusat perbelanjaan yang menjadi pusat acara, melainkan rumah-rumah warga. Teras dan halaman penduduk berubah menjadi ruang menerima tamu.

Pengunjung dapat berjalan dari satu rumah ke rumah lain sambil menikmati berbagai jenis kopi dan jajanan tradisional.

Karena konsep tersebut, suasananya terasa seperti bertamu ke sebuah kampung besar, bukan sekadar menghadiri acara komersial.

Berawal dari Kebiasaan Masyarakat Menyuguhkan Kopi

Akar Ngopi Sepuluh Ewu sebenarnya cukup sederhana: kebiasaan masyarakat Kemiren menerima tamu dengan kopi.

Dalam budaya masyarakat Osing Kemiren, kopi sudah lama menjadi salah satu suguhan yang diberikan ketika seseorang berkunjung ke rumah.

Arsip Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengenai festival pada 2014 menyebut gagasan Ngopi Sepuluh Ewu berasal dari kebiasaan ngopi masyarakat sebagai cara mempererat silaturahmi.

Tradisi menerima tamu ini kemudian dikembangkan menjadi kegiatan yang melibatkan seluruh desa. Menariknya, sumber resmi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi tidak sepenuhnya konsisten mengenai tahun awal festival.

Arsip 2016 menyebut kegiatan tersebut telah dimulai sejak 2013, sedangkan publikasi pemerintah yang lebih baru menyebut Ngopi Sepuluh Ewu rutin digelar sejak 2014.

Karena itu, lebih aman mengatakan bahwa festival ini telah terdokumentasi secara resmi setidaknya sejak 2014.

Sejak saat itu, tradisi tersebut terus berkembang menjadi salah satu agenda budaya tahunan Kemiren.

Filosofi Suguh, Gupuh, dan Lung­guh

Salah satu nilai utama di balik Ngopi Sepuluh Ewu adalah filosofi suguh, gupuh, lungguh.

Ketua adat Kemiren menjelaskan suguh sebagai memberikan hidangan kepada tamu. Gupuh menggambarkan antusiasme dalam menyambut orang yang datang, sedangkan lungguh berarti menyediakan tempat yang baik agar tamu dapat duduk dengan nyaman.

Filosofi tersebut terlihat jelas selama festival.

Warga bukan hanya menaruh kopi di meja lalu membiarkan pengunjung mengambil sendiri. Mereka menyediakan tempat duduk, mengajak tamu berbincang, dan menyajikan makanan pendamping.

Hubungan yang terbentuk akhirnya menjadi lebih personal.

Pengunjung bukan sekadar konsumen kopi. Untuk beberapa saat, mereka diperlakukan layaknya seseorang yang sedang bertamu ke rumah keluarga.

Inilah alasan Ngopi Sepuluh Ewu terasa berbeda dari acara kopi yang berpusat pada produk. Fokus utamanya justru ada pada cara manusia bertemu melalui secangkir kopi.

“Sak Corot Dadi Seduluran”, Sekali Seduh Jadi Saudara

Ada satu ungkapan yang hampir selalu muncul ketika membahas tradisi ini, yaitu “sak corot dadi seduluran”.

Maknanya kurang lebih “sekali seduh, kita menjadi saudara”. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mencatat filosofi tersebut sebagai gambaran bahwa minum kopi bersama menjadi media untuk menjalin silaturahmi dan menambah persaudaraan.

Filosofinya terasa sederhana, tetapi sangat relevan.

Bayangkan dua orang yang sebelumnya tidak saling mengenal duduk di teras rumah yang sama. Awalnya mereka mungkin hanya sama-sama menikmati kopi. Tidak lama kemudian percakapan muncul, mulai dari asal daerah, perjalanan, pekerjaan, hingga cerita tentang Kemiren.

Kopi menjadi pembuka percakapan.

Karena itulah, Ngopi Sepuluh Ewu sebenarnya dapat dipahami sebagai ritual sosial dalam skala besar. Ribuan orang datang, duduk bersama, berbicara, dan untuk sementara menghilangkan jarak antara penduduk lokal dengan wisatawan.

Ribuan Cangkir di Sepanjang Jalan Desa

Skala Ngopi Sepuluh Ewu menjadi salah satu bagian yang paling mencolok.

Pada penyelenggaraan 2023, sajian kopi dan tempat duduk warga membentang sepanjang sekitar dua kilometer di jalan utama Desa Kemiren. Pengunjung dapat memilih rumah mana saja untuk singgah dan menikmati kopi.

Saat festival berlangsung, hampir seluruh kawasan terlihat seperti kedai kopi raksasa.

Namun bukan kedai modern dengan mesin espresso dan interior yang dibuat seragam. Setiap rumah membawa karakter masing-masing.

Ada warga yang menyediakan tikar, meja sederhana, kursi, atau tempat lesehan. Kopinya juga beragam, mulai dari robusta, arabika, hingga racikan house blend warga.

Justru variasi inilah yang membuat pengalaman berjalan menyusuri Kemiren terasa menarik.

Setiap beberapa meter, pengunjung menemukan tuan rumah, rasa kopi, dan percakapan yang berbeda.

Cangkir Warisan Keluarga yang Ikut Bercerita

Ada satu detail kecil yang membuat tradisi ini semakin unik: cangkir kopi yang digunakan warga.

Pada Ngopi Sepuluh Ewu, sebagian masyarakat menyajikan kopi menggunakan cangkir yang telah diwariskan dari generasi sebelumnya. Dokumentasi pemerintah pada 2023 dan 2024 sama-sama mencatat penggunaan cangkir warisan tersebut dalam festival.

Benda sederhana seperti cangkir akhirnya memiliki nilai budaya.

Ia bukan sekadar wadah kopi, tetapi bagian dari sejarah keluarga. Bisa jadi cangkir yang digunakan wisatawan malam itu pernah digunakan orang tua atau kakek-nenek pemilik rumah ketika menerima tamu puluhan tahun sebelumnya.

Dalam konteks seperti ini, pelestarian budaya tidak harus selalu berupa bangunan monumental atau benda museum.

Kadang-kadang ia hadir melalui kebiasaan menggunakan kembali benda keluarga dalam sebuah tradisi yang masih hidup.

Jajanan Tradisional Menemani Secangkir Kopi

Ngopi tentu terasa kurang lengkap tanpa camilan.

Dalam penyelenggaraan festival sejak awal, masyarakat Kemiren juga menyediakan berbagai jajanan tradisional sebagai teman minum kopi. Arsip 2014 mencatat hidangan seperti rengginang, keripik gadung, ketan, pisang rebus, serabi, lopis, hingga klemben.

Pada penyelenggaraan berikutnya, jajanan seperti pisang goreng, apem, kucur, dan klemben juga menjadi bagian dari sajian warga.

Kue klemben sendiri sangat lekat dengan kebiasaan ngopi di Kemiren.

Kombinasi kopi dan jajanan membuat festival sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan kuliner lokal kepada pengunjung.

Jadi, seseorang mungkin datang karena penasaran dengan festival kopi, tetapi pulang setelah mengenal lebih banyak makanan tradisional Banyuwangi.

Bukan Desa Penghasil Kopi, tetapi Punya Budaya Ngopi Kuat

Ada fakta menarik yang sering mengejutkan pengunjung: Kemiren bukan pusat produksi kopi utama Banyuwangi.

Ketua adat setempat dalam dokumentasi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi 2025 menjelaskan bahwa Kemiren bukan desa penghasil kopi.

Meski begitu, budaya menyuguhkan kopi membuat desa tersebut berkembang menjadi salah satu tempat yang identik dengan pengalaman ngopi.

Hal ini menunjukkan bahwa identitas kuliner tidak selalu ditentukan oleh tempat bahan mentah diproduksi.

Kemiren memiliki kekuatan pada cara kopi diolah, disajikan, dan digunakan dalam hubungan sosial.

Sementara wilayah Banyuwangi secara lebih luas mempunyai kawasan perkebunan kopi, masyarakat Kemiren memberi nilai budaya tambahan melalui tradisi menerima tamu.

Itulah sebabnya Ngopi Sepuluh Ewu lebih tepat disebut festival budaya berbasis kopi, bukan sekadar festival komoditas kopi.

Dari Tradisi Sosial Menjadi Daya Tarik Wisata

Seiring berkembangnya Desa Kemiren sebagai desa wisata, Ngopi Sepuluh Ewu ikut menjadi magnet bagi pengunjung.

Jadesta Kementerian Pariwisata mencantumkan festival ini bersama Barong Ider Bumi, Tumpeng Sewu, dan Festival Gedhogan sebagai daya tarik tahunan Desa Wisata Adat Osing Kemiren.

Festival dinilai membantu memperkenalkan budaya sekaligus membangun citra positif desa wisata.

Dalam beberapa penyelenggaraan, wisatawan mancanegara juga tercatat ikut menghadiri festival dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Dampaknya tidak berhenti pada promosi.

Ketika ribuan pengunjung datang, pelaku kuliner, UMKM, kedai kopi, homestay, hingga produk kreatif lokal ikut memperoleh peluang ekonomi. Pemerintah daerah juga menyebut festival sebagai salah satu sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus pelestarian budaya.

Dengan kata lain, tradisi lama memberi manfaat baru tanpa harus kehilangan karakter dasarnya.

Gotong Royong Menjadi Kekuatan Utama

Festival sebesar Ngopi Sepuluh Ewu sulit terlaksana jika hanya mengandalkan panitia kecil.

Kekuatan sebenarnya justru berada pada partisipasi warga.

Setiap keluarga menyediakan ruang di depan rumah, menyiapkan kopi, mengatur tempat duduk, serta menerima tamu. Arsip festival sejak 2014 telah menggambarkan tingginya keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan tersebut.

Inilah contoh konkret gotong royong dalam bentuk yang sangat menyenangkan.

Satu rumah mungkin hanya mampu menyediakan beberapa teko kopi. Namun jika dilakukan oleh ratusan keluarga, satu desa dapat menyambut ribuan orang.

Dari sudut pandang budaya, partisipasi seperti ini jauh lebih penting daripada besarnya panggung.

Tradisi akan lebih mudah bertahan jika masyarakat merasa memilikinya dan bukan sekadar menjadi penonton acara yang diselenggarakan pihak luar.

Cara Menikmati Ngopi Sepuluh Ewu dengan Lebih Bermakna

Kalau suatu hari berkesempatan menghadiri Ngopi Sepuluh Ewu, jangan terburu-buru mengejar sebanyak mungkin cangkir kopi.

Pilih satu atau dua rumah, duduk sejenak, lalu berbincang dengan warga.

Tanyakan bagaimana mereka mempersiapkan festival, jenis kopi yang diseduh, atau cerita tentang cangkir yang digunakan. Pengalaman seperti itu biasanya jauh lebih berkesan dibandingkan hanya mengambil foto lalu berpindah tempat.

Jangan lupa mencoba jajanan lokal dan membeli produk UMKM jika tersedia.

Anda juga bisa melanjutkan pengalaman kopi di hari lain. Profil Desa Wisata Kemiren mencantumkan edukasi sangrai kopi tradisional dan Kopi Kemiren Jaran Goyang sebagai bagian dari produk wisata desa.

Dengan begitu, perjalanan tidak berhenti pada festival, tetapi berlanjut pada pemahaman tentang budaya ngopi masyarakat Osing.

Mengapa Tradisi Ini Layak Dipertahankan?

Ngopi Sepuluh Ewu menunjukkan bahwa kebudayaan tidak selalu harus berupa ritual yang rumit.

Kebiasaan sederhana menerima tamu dengan kopi ternyata dapat menjadi identitas desa ketika dilakukan secara konsisten dan diwariskan antargenerasi.

Tradisi ini juga menawarkan sesuatu yang semakin jarang dalam kehidupan modern: ruang untuk duduk bersama tanpa hubungan transaksional yang terlalu kuat.

Orang datang, diberi tempat, disuguhi kopi, lalu diajak berbicara.

Di tengah perubahan pola komunikasi yang semakin digital, bentuk interaksi langsung seperti ini terasa semakin bernilai.

Karena itu, pelestarian Ngopi Sepuluh Ewu bukan hanya tentang mempertahankan festival tahunan. Yang lebih penting adalah menjaga nilai keramahan, keterbukaan, gotong royong, dan persaudaraan yang menjadi ruhnya.

Tradisi Ngopi Sepuluh Ewu di Kemiren menunjukkan bahwa secangkir kopi dapat menjadi media yang sangat kuat untuk menyatukan orang.

Berangkat dari kebiasaan masyarakat Osing menyambut tamu, tradisi ini berkembang menjadi festival besar yang memenuhi jalan desa dengan ribuan cangkir, jajanan, dan ruang untuk bersilaturahmi.

Filosofi suguh, gupuh, lungguh serta ungkapan sak corot dadi seduluran menjadi inti yang membuat festival ini lebih dari sekadar pesta kopi.

Jika berkunjung ke Banyuwangi saat Ngopi Sepuluh Ewu digelar, jangan hanya datang untuk mencicipi kopi gratis. Duduklah di teras warga, mulailah percakapan, dan nikmati keramahan Kemiren.

Karena pengalaman terbaiknya bukan menghitung berapa cangkir yang diminum, melainkan berapa banyak cerita dan pertemanan yang muncul setelahnya.

FAQ

1. Apa itu Ngopi Sepuluh Ewu?

Ngopi Sepuluh Ewu adalah festival budaya di Desa Kemiren, Banyuwangi, ketika warga menyajikan ribuan cangkir kopi kepada pengunjung di sepanjang rumah-rumah desa.

2. Sejak kapan Ngopi Sepuluh Ewu digelar?

Sumber resmi memiliki perbedaan kecil mengenai tahun awalnya. Arsip Pemkab 2016 menyebut festival dimulai pada 2013, sedangkan publikasi yang lebih baru menyebut rutin digelar sejak 2014. Festival ini setidaknya telah terdokumentasi resmi sejak 2014.

3. Apa arti Ngopi Sepuluh Ewu?

Sepuluh ewu berarti sepuluh ribu. Nama tersebut menggambarkan ribuan cangkir kopi yang disediakan masyarakat selama festival.

4. Apa arti “sak corot dadi seduluran”?

Ungkapan tersebut secara bebas berarti “sekali seduh, kita menjadi saudara” dan menggambarkan kopi sebagai sarana mempererat persaudaraan.

5. Mengapa Ngopi Sepuluh Ewu penting bagi masyarakat Osing?

Festival ini merepresentasikan tradisi menerima tamu, gotong royong, silaturahmi, dan filosofi suguh, gupuh, lungguh yang masih dijaga masyarakat Kemiren.