Datang ke Desa Kemiren rasanya kurang lengkap kalau hanya melihat rumah adat, Tari Gandrung, atau mengikuti berbagai tradisinya.
Ada satu cara lain yang jauh lebih sederhana untuk mengenal kehidupan masyarakat Osing: duduk, makan, dan menikmati hidangan yang biasa mereka sajikan.
Kuliner khas Osing Kemiren mempunyai hubungan kuat dengan kehidupan sehari-hari, keramahan, hingga ritual masyarakat. Pecel pitik, misalnya, bukan sekadar ayam berbumbu kelapa.
Hidangan ini juga menjadi bagian penting dalam selamatan dan tradisi Tumpeng Sewu. Sementara kue klemben sering menemani secangkir kopi ketika tamu datang ke rumah.
Kemiren bahkan memiliki Pasar Kampoeng Osing yang digelar pada Minggu pagi dan menjadi tempat menarik untuk menemukan berbagai masakan serta jajanan tradisional.
Kalau Anda sedang merencanakan perjalanan kuliner ke Banyuwangi, berikut beberapa makanan dan minuman khas yang layak masuk daftar pencarian saat berkunjung ke kampung adat Osing ini.
1. Pecel Pitik, Kuliner Ikonik Masyarakat Osing
Kalau hanya punya kesempatan mencoba satu makanan di Kemiren, pecel pitik layak ditempatkan di urutan pertama.
Namanya memang menggunakan kata “pecel”, tetapi tampilannya berbeda dari pecel sayuran yang umum dijumpai di Jawa. Pecel pitik dibuat dari ayam kampung muda yang dipanggang, kemudian dipadukan dengan kelapa parut berbumbu.
Racikan tradisionalnya menggunakan bahan seperti kemiri, cabai rawit, terasi, daun jeruk, dan gula. Bumbu yang sudah dihaluskan dicampur dengan kelapa muda sebelum kemudian dipadukan dengan ayam panggang.
Rasanya gurih, sedikit pedas, aromatik, dan memiliki karakter kelapa yang cukup kuat.
Bukan Sekadar Makanan Sehari-hari
Keistimewaan pecel pitik juga terletak pada konteks budayanya.
Makanan ini menjadi menu penting dalam Tumpeng Sewu, selamatan masyarakat Kemiren yang digelar menjelang Idul Adha. Dalam pelaksanaannya, keluarga-keluarga menyiapkan tumpeng dengan pecel pitik untuk disantap bersama kerabat dan warga.
Karena itulah, mencicipi pecel pitik sebenarnya sekaligus membuka pintu untuk memahami bagaimana makanan, ritual, dan kehidupan sosial masyarakat Osing saling berhubungan.
2. Ayam Kesrut atau Uyah Asem, Segar dengan Rasa Asam Pedas
Selain pecel pitik, ada ayam kesrut yang juga populer dalam kuliner masyarakat Kemiren.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mencatat pecel pitik dan ayam kesrut sebagai makanan khas yang banyak diminta wisatawan ketika datang ke Desa Kemiren.
Warga yang terlibat dalam kegiatan pariwisata bahkan ikut memperoleh penghasilan dengan memasak menu-menu tersebut untuk tamu.
Dalam beberapa sumber pariwisata, hidangan serupa juga disebut uyah asem, yang dijelaskan sebagai ayam dengan kuah bercita rasa asam khas Osing.
Indonesia Travel memasukkan uyah asem bersama pecel pitik dan tahu walik sebagai menu yang dapat dicoba saat mengikuti pengalaman kuliner di Desa Wisata Osing Kemiren.
Karakter rasa masakan ini cenderung segar, gurih, asam, sekaligus memiliki sentuhan pedas.
Kalau pecel pitik terasa lebih kaya dan gurih karena kelapa, ayam kesrut memberikan pengalaman yang berbeda karena kuahnya lebih ringan dan menyegarkan.
Menu seperti ini cocok dinikmati saat makan siang, terutama setelah berjalan mengelilingi kawasan rumah adat Kemiren.
3. Kue Klemben, Teman Ngopi yang Sudah Melekat
Setelah makanan berat, waktunya mencari camilan.
Salah satu yang paling menarik adalah kue klemben, kue tradisional yang masih diproduksi masyarakat Kemiren menggunakan cara sederhana.
Klemben juga dikenal di sejumlah tempat sebagai bolu kuwuk. Teksturnya cenderung agak renyah di bagian luar tetapi lebih lembut di dalam, dengan rasa manis yang tidak terlalu berat.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mencatat bahwa sebagian pembuat klemben di Kemiren masih memanggangnya menggunakan oven tradisional dari tanah liat.
Yang membuat kue ini semakin menarik adalah hubungannya dengan budaya menerima tamu.
Bagi sebagian masyarakat Osing Kemiren, minum kopi terasa kurang lengkap tanpa klemben. Ketika ada tamu datang, kopi atau teh hangat juga kerap disajikan bersama kue tersebut.
Jadi, kombinasi kopi dan klemben bisa menjadi salah satu pengalaman kuliner paling sederhana tetapi autentik selama berada di Kemiren.
4. Tape Ketan Daun Kemiri, Kudapan dengan Sentuhan Lokal
Kudapan lain yang layak dicari adalah tape ketan.
Tape ketan sebenarnya dapat ditemukan di berbagai daerah Indonesia. Namun cara penyajiannya di Kemiren memiliki sentuhan lokal yang menarik karena pernah didokumentasikan menggunakan daun kemiri sebagai pembungkus.
Detail ini terasa semakin relevan karena nama Kemiren sendiri berkaitan dengan keberadaan pohon kemiri di kawasan tersebut.
Tape ketan mempunyai karakter rasa manis dengan sedikit sensasi fermentasi. Teksturnya lembut dan berair, sehingga cocok menjadi camilan ringan setelah menyantap makanan gurih.
Bagi wisatawan, makanan seperti ini menarik bukan karena tampilannya mewah.
Justru daya tariknya ada pada cara bahan sederhana, daun lokal, dan teknik tradisional bertemu dalam satu sajian yang telah dikenal masyarakat sejak lama.
5. Lepet, Jajanan Tradisional yang Sederhana tetapi Mengenyangkan
Masih dari kelompok jajanan tradisional, jangan lewatkan lepet.
Dalam dokumentasi kunjungan wisata budaya ke Kemiren, lepet disajikan bersama kue klemben dan tape ketan sebagai bagian dari kudapan khas Osing yang diperkenalkan kepada wisatawan.
Lepet umumnya dibuat dari beras ketan dan kelapa, kemudian dibungkus sebelum dimasak. Hasilnya adalah kudapan dengan tekstur padat dan kenyal serta rasa gurih yang sederhana.
Justru kesederhanaannya menjadi daya tarik.
Kuliner tradisional seperti lepet mengingatkan bahwa makanan khas desa tidak selalu harus menggunakan banyak bumbu. Teknik memasak, pilihan bahan, dan kebiasaan masyarakat dalam menyajikannya sering menjadi bagian terpenting dari identitas makanan.
Lepet cocok untuk sarapan ringan atau teman minum kopi, terutama jika Anda sedang menjelajahi pasar tradisional pada pagi hari.
6. Tumpeng Srakad dan Cara Makan yang Sarat Filosofi
Jika mendapat kesempatan mengikuti paket wisata budaya atau selamatan masyarakat, Anda mungkin berjumpa dengan tumpeng srakad.
Tumpeng ini pernah diperkenalkan kepada wisatawan sebagai sajian dengan berbagai sayuran rebus yang dinikmati bersama pecel pitik, lalapan, dan sambal.
Dalam pengalaman tersebut, tamu juga diperkenalkan pada filosofi lokal sebelum kemudian makan bersama menggunakan tangan.
Di sinilah kuliner Kemiren terasa berbeda dari sekadar wisata restoran.
Yang ditawarkan bukan hanya makanan, tetapi juga pengalaman mengenai bagaimana hidangan disiapkan dan dinikmati bersama.
Untuk wisatawan yang tertarik pada budaya, pengalaman seperti ini sering jauh lebih berkesan dibandingkan hanya memesan menu, makan, kemudian pulang.
Kita dapat memahami bahwa makanan tradisional berfungsi sebagai bagian dari ritual, sarana berkumpul, dan media untuk meneruskan nilai antargenerasi.
7. Kopi Kemiren, Penutup yang Sulit Dilewatkan
Meski bukan makanan, kopi Kemiren layak menjadi bagian dari perjalanan kuliner.
Budaya minum kopi memiliki kedudukan kuat dalam kehidupan sosial masyarakat setempat.
Ketua Adat Osing Kemiren menjelaskan adanya filosofi suguh, gupuh, lungguh dalam menerima tamu: memberi suguhan, menyambut dengan antusias, dan menyediakan tempat duduk dengan baik. Kopi sering menjadi bagian dari bentuk keramahan tersebut.
Pengunjung juga dapat belajar mengolah kopi secara tradisional.
Indonesia Travel mendokumentasikan pengalaman menumbuk, menyangrai, menyaring, hingga menyajikan kopi di Kemiren. Proses sangrai tradisional dilakukan menggunakan wajan dengan tungku tanah liat.
Budaya ngopi ini kemudian berkembang menjadi Festival Ngopi Sepuluh Ewu, salah satu agenda budaya terkenal Desa Kemiren. Jadesta juga mencantumkan kopi Kemiren sebagai salah satu produk unggulan desa wisata bersama pecel pitik dan batik khas Banyuwangi.
Coba pesan kopi bersama kue klemben. Kombinasi tersebut bisa menjadi penutup yang pas setelah menjelajahi kuliner Osing.
8. Pasar Kampoeng Osing, Tempat Berburu Kuliner Lokal
Kalau ingin menemukan beberapa makanan dalam satu kunjungan, Pasar Kampoeng Osing menjadi pilihan menarik.
Menurut Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, pasar kuliner tradisional di Kemiren digelar pada Minggu pagi dan menyajikan makanan seperti pecel pitik, ayam kesrut, serta aneka jajanan tradisional.
Pasar tersebut juga menjadi bagian dari pengembangan Desa Wisata Adat Kemiren.
Pada 2025, pengelola desa menyebut Pasar Kampoeng Osing sebagai salah satu fasilitas yang membantu wisatawan mengenal kehidupan masyarakat Osing sekaligus menggerakkan aktivitas warga.
Bagi pengunjung, keuntungan datang ke pasar adalah kesempatan mencoba makanan dalam porsi yang lebih beragam.
Datanglah cukup pagi agar pilihan makanan masih banyak. Jangan terburu-buru mencari makanan yang paling populer saja; jajanan kecil buatan warga sering justru memberikan pengalaman yang lebih menarik.
Kuliner Osing sebagai Bagian dari Ekonomi Warga
Kuliner Kemiren tidak hanya penting untuk pelestarian budaya, tetapi juga memberi manfaat ekonomi.
Perkembangan desa wisata membuka kesempatan bagi warga dari berbagai usia untuk terlibat. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pada 2026 mendokumentasikan warga lanjut usia yang memperoleh penghasilan dengan memasak pecel pitik dan ayam kesrut untuk wisatawan.
Artinya, resep yang sebelumnya terutama diwariskan dalam keluarga dapat berubah menjadi keterampilan ekonomi tanpa harus kehilangan nilai tradisionalnya.
Desa Wisata Kemiren juga menempatkan kuliner sebagai salah satu pengalaman utama bagi pengunjung, bersama pendidikan budaya, kesenian, homestay, serta produk ekonomi kreatif.
Ini menjadi contoh sederhana bagaimana wisata berbasis budaya bisa bekerja.
Wisatawan mendapatkan pengalaman autentik, sedangkan masyarakat memperoleh pasar bagi keterampilan dan makanan yang telah mereka kenal sejak lama.
Tips Menikmati Kuliner Osing Kemiren
Kalau ingin mendapatkan pengalaman yang lebih autentik, jangan hanya mencari restoran besar.
Cobalah datang ke Pasar Kampoeng Osing pada Minggu pagi, mengikuti paket wisata kuliner, menginap di homestay, atau bertanya kepada warga mengenai makanan yang tersedia hari itu.
Kemiren memiliki warung kuliner sekaligus pengalaman memasak tradisional yang melibatkan masyarakat setempat.
Beberapa hidangan juga berkaitan dengan acara tertentu.
Pecel pitik, misalnya, terasa semakin bermakna ketika dipahami dalam konteks Tumpeng Sewu atau selamatan masyarakat. Karena itu, jangan ragu bertanya mengenai cerita di balik makanan yang Anda coba.
Kuliner akan terasa jauh lebih menarik ketika kita mengetahui siapa yang memasaknya, bagaimana resep diwariskan, dan mengapa makanan tersebut penting bagi masyarakat.
Kuliner khas Osing Kemiren menawarkan pengalaman yang jauh lebih dalam daripada sekadar mencari makanan enak.
Pecel pitik membawa cerita tentang selamatan, ayam kesrut menawarkan cita rasa segar khas dapur Osing, sementara klemben, tape ketan, dan lepet memperlihatkan kekayaan jajanan tradisional masyarakat.
Budaya kopi kemudian melengkapi semuanya dengan filosofi keramahan yang membuat tamu merasa diterima.
Kalau berkunjung ke Kemiren, sisihkan waktu khusus untuk wisata kuliner. Datanglah ke pasar tradisional, mampir ke warung warga, atau ikuti pengalaman memasak bersama masyarakat lokal.
Jangan hanya mencari rasa yang paling enak-cari juga cerita di balik hidangannya. Karena di Kemiren, makanan adalah salah satu cara paling menyenangkan untuk memahami budaya Osing dari dekat.
FAQ
1. Apa makanan khas Kemiren yang paling terkenal?
Pecel pitik menjadi salah satu yang paling identik dengan Kemiren. Hidangan ini berupa ayam kampung panggang dengan kelapa parut berbumbu dan juga menjadi bagian penting dalam tradisi Tumpeng Sewu.
2. Apa itu ayam kesrut?
Ayam kesrut merupakan salah satu masakan yang populer dalam kuliner Osing dan banyak diminta wisatawan di Kemiren. Menu berkuah dengan cita rasa asam ini juga dikenal berkaitan dengan uyah asem.
3. Jajanan tradisional apa yang bisa dicoba di Kemiren?
Beberapa yang tercatat diperkenalkan kepada wisatawan antara lain kue klemben, tape ketan yang dibungkus daun kemiri, dan lepet.
4. Kapan Pasar Kampoeng Osing Kemiren buka?
Pasar kuliner tradisional Kemiren digelar pada Minggu pagi, dengan berbagai masakan dan jajanan masyarakat setempat.
5. Apakah wisatawan bisa belajar memasak makanan Osing?
Ya. Desa Wisata Osing Kemiren menawarkan pengalaman kuliner yang memungkinkan pengunjung mengenal dan mencoba memasak menu lokal bersama warga.