Kalau ingin mengenal Banyuwangi lebih dalam, rasanya belum lengkap tanpa berbicara tentang Desa Kemiren.
Desa yang berada di Kecamatan Glagah ini dikenal sebagai salah satu tempat terbaik untuk melihat bagaimana kebudayaan Osing tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Menariknya, sejarah Desa Kemiren bukan hanya cerita tentang kapan sebuah desa berdiri. Di baliknya ada perjalanan masyarakat Osing, jejak kehidupan agraris, tradisi turun-temurun, rumah adat, bahasa lokal, hingga berbagai ritual yang masih dijalankan oleh masyarakat sampai sekarang.
Kemiren bahkan berkembang menjadi salah satu pusat wisata budaya penting di Banyuwangi.
Karena itulah, berkunjung ke Kemiren terasa berbeda dari sekadar mendatangi objek wisata. Kita seperti masuk ke ruang hidup masyarakat yang budayanya masih digunakan dalam keseharian. Lalu, bagaimana sebenarnya sejarah kampung adat Osing ini bermula?
Asal-Usul Desa Kemiren dan Masyarakat Osing
Untuk memahami Kemiren, kita perlu melihat sejarah masyarakat Osing yang lebih luas. Masyarakat Osing dikenal sebagai kelompok masyarakat asli Banyuwangi yang memiliki hubungan sejarah dan budaya kuat dengan wilayah bekas Kerajaan Blambangan.
Dalam berbagai narasi sejarah dan tradisi lokal, masyarakat Osing sering dikaitkan dengan perjalanan panjang masyarakat Blambangan setelah berbagai perubahan politik di ujung timur Pulau Jawa.
Sumber pariwisata resmi Indonesia juga menggambarkan masyarakat Osing sebagai pewaris kebudayaan yang berkembang di kawasan Blambangan.
Namun, sejarah terbentuknya masyarakat Osing tentu jauh lebih panjang dibandingkan sejarah administratif Desa Kemiren.
Karena itu, sebaiknya cerita mengenai asal-usul Osing dan berdirinya Kemiren dipahami sebagai dua bagian sejarah yang saling berkaitan, tetapi memiliki rentang waktu berbeda.
Kemiren kemudian menjadi salah satu wilayah tempat identitas Osing berkembang sangat kuat. Bahasa, kesenian, kuliner, arsitektur, serta ritual adat masih mudah ditemui dalam kehidupan masyarakatnya.
Dari Mana Nama Kemiren Berasal?
Nama Kemiren memiliki cerita yang cukup sederhana tetapi erat dengan kondisi alam masa lalu.
Menurut profil Desa Wisata Adat Osing Kemiren di Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata, nama Kemiren berasal dari kata kemirian, yang merujuk pada kawasan yang dahulu banyak ditumbuhi pohon kemiri.
Pohon kemiri sendiri sangat dekat dengan kehidupan masyarakat karena bijinya banyak dimanfaatkan sebagai bahan memasak. Dalam budaya kuliner Osing, berbagai bumbu berbahan rempah dan hasil pertanian lokal juga memiliki posisi penting.
Cerita lokal lainnya menyebut wilayah yang kemudian berkembang menjadi Kemiren awalnya berupa lahan pertanian dan hutan yang berkaitan dengan masyarakat dari kawasan Cungking.
Badan Registrasi Wilayah Adat mencatat narasi bahwa lahan tersebut sebelumnya merupakan sawah dan hutan yang dimanfaatkan penduduk Cungking sebelum berkembang menjadi permukiman tersendiri.
Dari lingkungan agraris itulah kehidupan masyarakat Kemiren perlahan tumbuh.
Tahun 1857 dan Jejak Berdirinya Desa Kemiren
Salah satu bagian paling menarik dalam sejarah Desa Kemiren Banyuwangi adalah penentuan hari jadinya.
Pada 2023, masyarakat Kemiren untuk pertama kalinya menggelar peringatan hari jadi desa secara resmi. Penetapan tersebut dilakukan setelah ditemukan dokumen lama berupa Surat Keputusan kepala desa yang diterbitkan pada masa pemerintahan Residen Besuki.
Ketua Adat Kemiren menjelaskan bahwa dokumen tersebut mencantumkan penetapan kepala desa kedua pada 6 November 1902.
Setelah menelusuri informasi mengenai kepala desa pertama yang diketahui telah memimpin sejak 1857, masyarakat dan pemerintah desa kemudian menyepakati 6 November 1857 sebagai Hari Jadi Desa Kemiren.
Artinya, tahun 1857 menjadi tonggak penting dalam sejarah administratif Kemiren.
Menariknya, peringatan hari jadi tidak dibuat sekadar sebagai acara seremonial. Perayaannya justru diisi dengan unsur budaya lokal seperti arak-arakan Barong Tuwek, selamatan tumpeng, Mocoan Lontar Yusuf, kesenian Gandrung, musik gedhogan, hingga pameran manuskrip lama.
Cara tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat Kemiren menghubungkan sejarah pemerintahan desa dengan identitas adat mereka.
Budaya Osing yang Bertahan dari Generasi ke Generasi
Hal yang membuat Kemiren istimewa bukan hanya usianya, tetapi kemampuan masyarakatnya mempertahankan tradisi.
Di desa ini, adat tidak hanya ditampilkan saat wisatawan datang. Beberapa tradisi memang masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Salah satu yang terkenal adalah Barong Ider Bumi, sebuah tradisi bersih desa yang berkaitan dengan ungkapan syukur sekaligus permohonan keselamatan. Ada pula Tumpeng Sewu, ketika masyarakat menyajikan tumpeng dan makan bersama sebagai simbol kebersamaan.
Tradisi lain yang masih dikenal adalah Mocoan Lontar Yusuf, pembacaan kisah Nabi Yusuf menggunakan tradisi sastra dan tembang lokal. Selain itu terdapat kesenian Gandrung, burdah, angklung paglak, serta musik gedhogan.
Tradisi-tradisi tersebut membuat sejarah Kemiren tidak hanya tersimpan dalam arsip. Sebagian sejarahnya justru terus “dipentaskan” dan dijalankan dalam kehidupan masyarakat.
Rumah Adat, Bahasa, dan Kehidupan Sehari-hari Orang Osing
Identitas Kampung Adat Osing Kemiren juga bisa terlihat dari lingkungan tempat tinggal penduduknya.
Rumah tradisional Osing masih dapat ditemukan di desa ini. Arsitektur tersebut menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat karena merekam pengetahuan lokal tentang ruang keluarga, kehidupan sosial, serta cara masyarakat beradaptasi dengan lingkungan.
Bahasa Osing pun masih menjadi salah satu unsur penting kehidupan sehari-hari. Bersama kesenian, tradisi lisan, manuskrip, ritual, permainan tradisional, dan pengetahuan lokal, bahasa membantu menjaga karakter Kemiren sebagai komunitas budaya.
Budaya menyambut tamu juga menarik. Masyarakat mengenal prinsip suguh, gupuh, lungguh. Secara sederhana, tamu diberi suguhan, disambut dengan antusias, lalu dipersilakan duduk dan ditempatkan sebaik mungkin.
Filosofi tersebut terasa jelas dalam tradisi minum kopi masyarakat Kemiren dan kemudian ikut menginspirasi Festival Ngopi Sepuluh Ewu.
Dari Kampung Adat Menjadi Desa Wisata
Perjalanan Kemiren memasuki babak baru ketika budaya lokal mulai dikembangkan sebagai kekuatan pariwisata.
Sejumlah penelitian mencatat Kemiren telah diarahkan sebagai Desa Wisata Adat Osing sejak 1995 karena masyarakatnya dinilai masih kuat mempertahankan adat dan kebudayaan Osing.
Pengelolaan wisata kemudian berkembang dengan melibatkan pemerintah desa, lembaga adat, kelompok sadar wisata, dan masyarakat.
Pada 2017, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyebut Kemiren telah ditetapkan sebagai desa wisata adat. Desa ini selanjutnya terus memperoleh perhatian melalui berbagai program wisata budaya.
Wisatawan kini tidak hanya datang untuk melihat pertunjukan. Mereka dapat mengenal rumah adat, belajar tari tradisional, menyaksikan proses menyangrai kopi, menikmati pecel pitik, belajar membatik, mendengarkan musik tradisional, hingga menginap di homestay milik warga.
Model seperti ini membuat pariwisata lebih dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.
Kemiren di Era Modern: Melestarikan Tradisi Tanpa Menolak Perubahan
Menjadi desa adat tidak berarti Kemiren menutup diri terhadap perkembangan zaman.
Justru tantangan terbesar desa ini adalah mencari keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian identitas. Pengelolaan pariwisata mulai memanfaatkan teknologi digital, sementara produk ekonomi kreatif, kuliner, homestay, dan festival budaya terus dikembangkan.
Pada 2024, Kemiren masuk 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia dan meraih juara dua untuk kategori Kelembagaan dan SDM.
Perkembangannya berlanjut ketika Kemiren masuk dalam Best Tourism Villages Upgrade Programme 2025 dari UN Tourism setelah proses seleksi yang melibatkan ratusan desa dari puluhan negara.
Prestasi tersebut menarik karena menunjukkan bahwa kebudayaan tradisional tidak harus hilang agar sebuah desa bisa berkembang.
Sebaliknya, ketika dikelola dengan baik, bahasa lokal, rumah adat, kuliner, kesenian, hingga ritual leluhur justru dapat menjadi kekuatan pembangunan masyarakat.
Mengapa Sejarah Desa Kemiren Penting untuk Dijaga?
Kemiren memberikan contoh bahwa sejarah sebuah tempat bukan sekadar kumpulan tanggal.
Tahun 1857 memang menjadi penanda penting. Namun identitas Kemiren sebenarnya terbentuk dari banyak lapisan: masyarakat Osing, hubungan dengan sejarah Blambangan, kehidupan pertanian, bahasa lokal, tradisi lisan, rumah adat, ritual, kuliner, dan hubungan sosial antarwarga.
Ketika generasi muda mengenal semua unsur tersebut, mereka tidak hanya mengetahui dari mana desanya berasal. Mereka juga memahami alasan sebuah tradisi perlu dipertahankan.
Bagi wisatawan, pemahaman sejarah juga membuat kunjungan menjadi jauh lebih bermakna. Barong Ider Bumi bukan lagi sekadar atraksi, pecel pitik bukan cuma makanan, dan rumah adat bukan hanya latar untuk berfoto.
Semuanya merupakan bagian dari cerita panjang masyarakat Osing di Banyuwangi.
Sejarah Desa Kemiren memperlihatkan perjalanan sebuah kampung yang mampu menjaga identitas Osing sambil terus berkembang mengikuti zaman.
Dari kawasan yang dikenal karena banyaknya pohon kemiri, jejak pemerintahan desa sejak 1857, hingga berbagai tradisi seperti Barong Ider Bumi, Tumpeng Sewu dan Mocoan Lontar Yusuf, Kemiren memiliki warisan budaya yang sangat kaya.
Kini, Kampung Adat Osing Kemiren tidak hanya menjadi tempat tinggal masyarakat, tetapi juga ruang belajar tentang sejarah dan kebudayaan Banyuwangi.
Jika berkunjung ke Banyuwangi, jangan hanya melewati Kemiren. Luangkan waktu berjalan di desanya, berbincang dengan warga, mencicipi kuliner lokal, melihat rumah adat, dan menyaksikan tradisi secara langsung.
Dari sana, cerita tentang masyarakat Osing akan terasa jauh lebih hidup.
FAQ
1. Kapan Desa Kemiren berdiri?
Masyarakat dan pemerintah desa menyepakati 6 November 1857 sebagai Hari Jadi Desa Kemiren berdasarkan penelusuran dokumen sejarah pemerintahan desa.
2. Di mana Desa Kemiren berada?
Desa Kemiren berada di Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Desa ini dikenal sebagai salah satu pusat pelestarian budaya masyarakat Osing.
3. Apa arti nama Kemiren?
Nama Kemiren diyakini berasal dari kata kemirian, yaitu sebutan untuk kawasan yang dahulu banyak ditumbuhi pohon kemiri.
4. Apa saja tradisi terkenal di Desa Kemiren?
Beberapa tradisi dan kegiatan budaya yang terkenal antara lain Barong Ider Bumi, Tumpeng Sewu, Mocoan Lontar Yusuf, Mepe Kasur, kesenian Gandrung, dan Festival Ngopi Sepuluh Ewu.
5. Mengapa Kemiren disebut Kampung Adat Osing?
Kemiren dihuni masyarakat Osing yang masih menjaga berbagai unsur kebudayaan leluhur, mulai dari bahasa, tradisi, kesenian, rumah adat, kuliner hingga ritual dalam kehidupan masyarakat.